26 July 2026

Bojonegoro 2

 #napaktilasbojonegoro2018

Acara keesokan harinya adalah berkeliling. Kami berjalan kaki dahulu melihat sekitar. Hanya 5 menit berjalan, kami sudah bisa bersua dengan Sungai Bengawan Solo yang terkenal itu.

Terlihat sebuah perahu sedang berlayar mendekat, berisi beberapa penumpang beserta kendaraan mereka menyeberangi sungai.

Kata wiki, Solo adalah sungai terpanjang di Pulau Jawa, dengan dua hulu sungai yaitu dari daerah Pegunungan Sewu dan Ponorogo, selanjutnya bermuara di daerah Gresik. "Bengawan" dalam bahasa Jawa berarti "sungai yang besar". #barutau 😂

Pada masa lalu, sungai ini pernah dinamakan Wuluyu, Wulayu, dan Semanggi (dieja Semangy dalam naskah bahasa Belanda abad ke-17)

Dan, mestinya ini dikasih latar lagu "Bengawan Solo" nih, yang menurut saya lagu Indonesia yang paling klasik dan mendunia.

Dari pinggir sungai, kami melakukan perjalanan kembali. Lima menit berselang, sawah-sawah hijau muncul ke hadapan. Mentari pagi yang berpendar keemasan membuat paduan warna hijau dan jingga berpadu indah. Embun pagi menyegarkan. Rasanya pas kalau lagu Zamrud Khatulistiwa menjadi latar.

Dasar anak kota, ketemu sawah saja bisa bikin girang.

Kami bertemu dengan para petani yang sedang menjaga sawahnya dari ancaman burung. Cara menjaga sawahnya bermacam-macam, ada yang dengan cara menggoyangkan tali yang terhubung dengan orang-orangan sawah. Terkadang pada tali tersebut, terdapat kaleng-kaleng yang berbunyi ketika bergerak.

Selain itu, ada juga yang mengusir burung dengan cara menabuh kaleng yang dia bawa sambil berteriak-teriak, seperti yang dilakukan seorang ibu pada video berikut. Gaduh sekali.

Ohya, jalan desa ini terbuat dari conblock dan bukannya aspal. Bagusss.

Tidak seorangpun yang mengetahui secara pasti, mengapa desa di tepi sungai itu diberi nama Ngringinrejo. Yang jelas, banyak yang menafsirkan nama ini sebagai "tempat yang teduh dan ramai". Penafsiran mana, bila dikaitkan dengan kata "ringin" (pohon beringin) dan "rejo" (ramai), memang terlihat tidak mengada-ada. Semua orang (terlebih lagi orang jawa) sudah mahfum bahwa "ringin" (pohon beringin) itu melambangkan (baca: menjanjikan) suasana teduh.

Meskipun demikian, Ngringinrejo ternyata juga dimaknai oleh sebagian orang secara harfiah, yakni "ringin" yang "rejo". Artinya, pohon beringin yang ramai. Lalu, pengertian ini kemudian diperluas menjadi, tempat yang banyak ditumbuhi pohon beringin, dan ramai ditinggali orang.

Nah, terus yang saya foto adalah sawah, mana pohon beringinnya? Gapapa lah ya, yang punya akun mah bebas 😜.

Ohya, terdapat foto dengan bayangan si fotografer ikut numpang ikut (photobomb). Tak apa lah ya, yang penting target foto di tengah sawah sudah terlaksana.

Sejam berlalu (80% digunakan untuk foto-foto), kami akhirnya sampai di Bendung Gerak. Kami melakukan inspeksi terhadap proyek yang sedang dilakukan di bendungan ini. Bohong deng. Yang kami lakukan tidak lain dan tidak bukan adalah membeli kudapan dan kopi/teh.

Keberadaan Bendung Gerak, yang membendung sungai Bengawan Solo ini, fungsinya di samping sebagai penyedia air untuk rumah tangga, pertanian, juga sekaligus menjaga dari kerusakan ekosistem sungai Bengawan Solo supaya tak meluas ketika banjir menerjang dan sebagai bentuk tata kelola air di Jawa Timur.

Sebelumnya petani hanya bisa melakukan tanam dua kali setahun, sekarang diharapkan bertambah menjadi tiga kali tanam dalam setahun.

Dulu sekitar 21 ribu hektare lahan pertanian padi di Bojonegoro Barat andalkan pertanian tadah hujan. Setelah ada pompanisasi, wilayah itu tidak mampu melakukan 2 kali panen dalam setahun. Maka sawah beririgasi dengan pompa air menjadi menjadi 6000 ribu hektare. Dengan adanya bendungan gerak ini 11 ribu hektare sawah akan bisa ditanami dua kali setahun. (diambil dari wiki, tentu saja).

Foto ini diambil dari dalam sungai Bengawan Solo, in a way. Ini berada pada bagian kering dari bendungan.

Mas Andi mengajak kami melanjutkan berkeliling menggunakan mobil, syukur alhamdulillah.

Tujuan pertama adalah berkunjung ke sisi surut dari Bendung Gerak. Pada sisi surut ini (oke, saya sebenarnya asal saja menamakan sisi surut. Jadi, yang namanya bendungan kan ada dua sisi. Satu sisi merupakan tempat air dibendung, dan satu sisi dimana air keluar perlahan-lahan, dan permukaannya lebih rendah dari sisi bendung tersebut).

Saya selalu berpikir bahwa ikan hanya banyak terdapat pada sisi bendung, karena di situ banyak terdapat air. Banyak air -> banyak ikan. Namun, saya ternyata salah. Pada sisi surut juga terdapat banyak ikan. Saya baru tahu bahwa beberapa jenis ikan ternyata senang berenang melawan arus, tidak hanya salmon saja.

Nah, dengan adanya bendungan, maka ikan-ikan ini menemui jalan buntu ketika sedang dalam perjalanan berenang melawan arus. Ikan-ikan ini menjadi sasaran empuk untuk dimanfaatkan.

Setelah dari Bendung Gerak, kami menuju ke kebun jambu batu kristal yang berlokasi tidak jauh dari situ. Yang keren adalah, di kebun jambu ini terdapat WiFi juga lho. Sulit dipercaya. Dan ternyata itu bukan sekedar papan pengumuman, karena ketika saya coba cari WiFi, ada access pointnya! (sayang saya lupa screencap).

Kami pun melanjutkan perjalanan melihat daerah sekitar, melihat sapi, lalu ayam yang memiliki bunyi kokok unik (jangan tanya saya nama jenis ayamnya apa).

Ada juga tanaman berbentuk unik yang tentu saja namanya saya juga lupa.

Setelah berkeliling, kami kembali ke rumah buyut untuk bersih-bersih. Maksudnya adalah mandi ya, bukan menyapu, mengepel, ataupun mencuci baju. Maksud dan tujuan dari bersih-bersih ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk foto-foto. Kami juga menyiapkan kostum khusus untuk hari ini.

Destinasi pertama foto-foto adalah tentu adalah rumah buyut. .
Destinasi kedua, yaitu Masjid Al-Fattah yang berlokasi di sebelah rumah eyang buyut, yang pembangunannya diprakarsai oleh eyang kakung semenjak tahun 1971. Siapa tahu nanti di masa depan saya bisa membangun masjid juga ya (Aamiin).

Destinasi ke-3, tunggu postingan berikutnya.

Destinasi ketiga yaitu makam eyang buyut. Kalau hari sebelumnya merupakan makam eyang buyut dari eyang putri, kalau di desa ini adalah makam eyang buyut dari eyang kakung.
Di makam desa ini juga dimakamkan beberapa keluarga lainnya, seperti makam-makam dari kakak dan adik eyang kakung. Salah satu kakak dari eyang kakung yang gugur pada masa perjuangan, juga dimakamkan di kompleks makam ini.

Setelah dari makam, kami pun melanjutkan perjalanan ke kota sebelah. Eits, tunggu dulu. Kami melakukan foto bersama terlebih dahulu pada jalan masuk Desa Ngringinrejo. Mengapa? Soalnya di situ ada nama eyang sebagai papan jalan. lol. Nah, kalau tidak mudik, kemungkinan besar kami para cucunya tidak tahu informasi ini.

Dari Desa Ngringinrejo, kami melanjutkan perjalanan sejauh 45 km arah utara ke Desa Sugihan.

Kami mampir ke Masjid Haji Soedirman untuk shalat dzuhur. Percaya atau tidak, sebagian besar dari kami baru tahu bahwa ada masjid yang namanya diambil dari nama eyang.

Jadi, begitu sampai, komentar saya adalah, "masjid ini pakai namanya eyang?". Jujur saja saya juga tidak tahu jadwal lengkap napak tilas kali ini kemana saja. Jadi, tiap kali sampai di suatu destinasi, tidak tahu apa yang akan ditemui.

Kami disambut oleh perangkat desa setempat. Saya juga tidak menyangka akan disambut secara formal seperti itu. Dari pihak desa dan keluarga menyampaikan sambutan.

Apa kaitan antara eyang dan Desa Sugihan? Tunggu postingan berikutnya.

Desa Sugihan mungkin salah satu desa yang sangat berkesan bagi eyang. Dahulu, eyang merupakan pemimpin Brigade Ronggolawe, dimana saat Agresi Militer Belanda 2, brigade berbasiskan di Desa Temayang (iya, ini desa lain lagi).

Sebagai pemimpin, tidak mungkin beliau berdiam di basis utama saja. Namun, beliau juga sering mengadakan kunjungan ke desa-desa.

Secara strategis, eyang sangat sadar bahwa kunjungan-kunjungan yang dilakukannya sangat bermanfaat. Bagaimanapun, secara moral, kehadirannya di tengah-tengah pos pertahanan pasukan maupun di tengah-tengah penduduk - menghadirkan rasa persatuan dan membangkitkan semangat juang yang tinggi.

Begitulah yang berlangsung pada akhir bulan April 1949. Eyang kembali melakukan inspeksi. Bahkan kali ini, eyang mengemban tugas yang dipercayakan oleh pusat, guna mengimbangi langkah-langkah intensif Belanda yang masuk ke kantong-kantong pertahanan para gerilya.

Setelah selama seminggu melakukan inspeksi ke kantong-kantong pertahanan gerilya, lalu bertemu juga dengan tokoh-tokoh masyarakat seperti para ulama dan pemuka adat, ataupun tokoh-tokoh nonformal lainnya yang memiliki pengaruh moral di masyarakatnya - eyang dan rombongannya pun bermaksud kembali ke desa Temayang. Namun, karena pertemuan terakhir yang mereka selenggarakan berakhir sudah sore hari, eyang pun mengajak rombongannya untuk singgah dan menginap di desa Sugihan.

Di desa Sugihan, berdiamlah seorang tokoh masyarakat bernama Said. Seorang bekas Heiho yang berasal dari Jawa Barat, tapi kemudian menetap dan berkeluarga, dengan menikahi perempuan warga desa Sugihan.
Kegembiraan, itulah yang terpancar di tengah keluarga Said dan penduduk desanya, ketika melihat siapa yang telah singgah di desa mereka. Maka kesibukan pun segera mewarnai desa yang biasanya senyap itu. Kepala Desa sengaja menambah tenaga keamanan demi keselamatan tamu penting mereka.

Namun, sementara itu, mata-mata pasukan Belanda agaknya telah lama mengintai gerak-gerik rombongan eyang dan bermaksud menyergap. Dengan tujuan, yang mudah diduga: melenyapkan eyang. Dalam arti politis: menghentikan segenap langkah-langkah perang gerilya yang disebarkan oleh eyang. (bersambung)

Peristiwa berdarah itu terjadi pada 8 Mei 1949. Menjelang subuh, seluruh penduduk Desa Sugihan pun dikejutkan oleh suara-suara tembakan. Rumah keluarga Said diserbu oleh pasukan khusus Belanda yang diperlengkapi senjata modern dan sangat memadai. Berlawanan dengan kondisi persenjataan eyang dan rombongannya, yang hanya membawa sepucuk pistol dan beberapa persenjataan sederhana.

Tapi sejarah ternyata ingin berkisah lain. Dalam serbuan yang tidak berimbang itu, eyang selamat. Ketika pasukan khusus Belanda menyerbu masuk, dan menewaskan beberapa orang anggota rombongan eyang, beberapa anggota lainnya mengadakan perlawanan gigih. Eyang sendiri, yang segera terjaga dan sempat meraih pistolnya, segera melepaskan tembakan balasan. Seorang tentara Belanda berhasil ia tewaskan. Lalu, eyang pun keluar dengan melompati jendela kamarnya, dan menunggu di kerimbunan kebun di belakang rumah.

Setelah terang pagi meninggi, dan masyarakat berdatangan, barulah eyang keluar dari persembunyiannya. Beberapa anggota pasukan Belanda yang masih hidup, ternyata langsung pergi meninggalkan tempat itu. Ada pun korban yang jatuh, di samping dari anggota rombongan eyang sendiri, serta beberapa anggota pasukan Belanda - yang mengenaskan adalah tewasnya keluarga Said suami-istri bersama empat anak mereka. Keluarga Said ini, meninggalkan seorang anak, yang selamat karena tertindih oleh mayat saudara-saudaranya.

Versi lain menyebutkan bahwa anak ini, yang bernama Chamami, bersembunyi di dalam kandang hewan ternak sehingga berhasil selamat.

Pakde mamik menjadi anak angkat eyang, dan berhubungan baik dengan keluarga kami sampai akhir hayatnya.

Ohya, di Desa Sugihan, kami disambut oleh perangkat kecamatan, pemilik rumah tempat kejadian tersebut terjadi, serta keturunan dari Pakde Mamik.

Kami kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Kota Bojonegoro. Tujuan kami adalah ke Masjid Baabus Shofa. Pendirian masjid ini merupakan inisiatif dari Pakde, bekerjasama dengan Tinton Suprapto, pembalap terkenal di zamannya yang juga merupakan ayahanda dari Ananda Mikola dan Moreno Suprapto. Pakde juga berkesempatan untuk meresmikan masjid ini.

Malamnya acara bebas. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, beberapa di antara kami pergi ke Kayangan Api Bojonegoro. Terletak sekitar setengah jam saja dari pusat kota.

Tiba di sana, ternyata tidak ada orang. Saya kira lokasi sudah tutup, tetapi supir yang mengantar kami ke sana, tempat tersebut buka 24 jam. Ternyata, memang bisa masuk. Lucunya, sekitar 15 menit setelah kami tiba, orang-orang pun berdatangan. Kami berasa menjadi penglaris.

Kayangan Api berupa sumber api abadi yang tak kunjung padam yang terletak pada kawasan hutan lindung di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem. Kompleks Kayangan Api merupakan fenomena geologi alam berupa keluarnya gas alam dari dalam tanah yang tersulut api sehingga menciptakan api yang tidak pernah padam walaupun turun hujan.

Menurut cerita, Kayangan Api adalah tempat bersemayamnya Mbah Kriyo Kusumo atau Empu Supa atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Pandhe berasal dari Kerajaan Majapahit, yang bekerja sebagai pembuat alat-alat pertanian dan pusaka seperti keris, tombak, cundrik dan lain-lain.

Di sebelah barat sumber api terdapat air yang berbau belerang, istilahnya air belukutuk. Air tersebut secara kasat mata terlihat seakan-akan mendidih dan berbuih. Namun, begitu disentuh, ternyata air ini sejuk. Tidak panas sama sekali. Konon, di sinilah tempat keris yang dibuat oleh Empu Supa dicelup. Atau apa itu namanya? Pokoknya dibuat jadi adem lah.

Di dekat situ, terdapat pohon cinta, karena apa saya juga lupa. Tadi mau nulis bahwa bentuk batangnya agak mirip dengan bentuk hati. Tapi rasanya tidak juga.

Terkesan angker? Memang. Apabila mbah penjaga tidak menemani, rasa-rasanya saya tidak mau berfoto di bawah pohon tersebut.

25 July 2026

Bojonegoro 1

 #napaktilasbojonegoro2018

Let's take a break from #rturkeytravelog, since I'm gonna write about my Bojonegoro trip. This travelog will be delivered in Bahasa Indonesia.

So yes, I and my family went to. Ups, forgot. Jadi, saya dan keluarga sejak tahun lalu berencana untuk pergi ke Bojonegoro, Jawa Timur. Bojonegoro merupakan tempat kelahiran orang tua dari ibu saya, dan cukup banyak keluarga besar dari buyut yang masih tinggal di sana.

Saya sendiri cukup jarang ke kota ini. Mudik saat lebaran pun tidak pernah. #funfact (ini padanan bahasa Indo nya apa ya?) - ternyata ibu saya pun selama hidupnya tidak pernah mudik saat lebaran. Saya juga baru tau akhir-akhir ini.

Perjalanan Jakarta - Bojonegoro memakan waktu 9 jam perjalanan dengan Kereta Api. Berangkat dari Jakarta hari Jumat malam, kami sampai di Bojonegoro sekitar waktu subuh keesokan harinya.

Ohya, saya baru tahu bahwa di stasiun yg ada di daerah Jawa (butuh validasi di daerah mana saja sih), diawali dengan pembukaan berupa suara gending sebelum pengumuman disampaikan lewat pengeras suara. Keren!

Saya mencoba untuk menyelesaikan travelog Bojonegoro saat (long) weekend ini. Kita lihat saja 😂

Ohya, postingan di travelog kali ini, lebih mengutamakan ragam tulisan dibandingkan gambar. Jangan dibandingkan dengan sesi travelog lain ya 😁

Sebenarnya seri travelog yang ditandai dengan tagar #napaktilasbojonegoro2018 ini sifatnya lebih bersifat dokumentasi personal, tapi saya posting di ranah publik karena tidak tahu juga baiknya posting di mana.

Sebagian memang sifatnya sejarah, yang saya tidak temukan di dunia maya setelah mencoba untuk googling, jadi tidak ada salahnya saya tulis di sini. Ohya, ini dengan asumsi kalau digoogling tidak ketemu, berarti informasi tersebut tidak/belum tersedia untuk publik di dunia maya ya.

Tulis di Microsoft Words atau Google Docs sebenarnya bisa saja, tetapi khawatir akan menjadi sampah secara otomatis. Kalau saya tulis di sini, siapa tahu ada yang baca, walau bisa jadi hanya buang-buang waktu yang baca saja, hehe. Maaf ya.

Oke, jadi hari pertama, setelah menaruh barang-barang di hotel, kami nyekar ke makam eyang buyut. Eyang buyut ini merupakan orang tua dari eyang putri.

Nah, makamnya terletak di (ternyata ini tidak ada catatannya. lol. saya kira akan ada saran dari Instagram, tapi ternyata tidak muncul. Sudah coba cari di Google Map ternyata tidak muncul juga). Menurut saya, makam di sini cukup teratur. Tidak seteratur TPU di Jakarta, tetapi lebih baik dibandingkan TPU Cikutra di Bandung. Mungkin karena kontur tanah di Bojonegoro yang lumayan rata, sedangkan di Cikutra berada di daerah perbukitan, sehingga sepertinya ngaturnya sulit juga.

Selain eyang buyut, di sini juga dimakamkan saudara kandung dari eyang putri, yaitu eyang Kanah dan eyang Tin (eyangnya @reziana). Eyang putri sendiri dimakamkan di TPU Tanah Kusir bersama eyang kakung. (ini macam tulisan blog anak SD ga sih? hahaha. gapapa lah ya).

Ohya, ada beberapa nisan yang tidak ada namanya. Mungkin yang perlu dilakukan adalah memberikan nama yg jelas pada nisan yang tidak bernama (seandainya bisa tinggal mention sodara yg tinggal di sana 😆). Karena, saya bingung mengenali makamnya, kakak.

Setelah nyekar dari makam eyang buyut, kami iring-iringan pergi ke Desa Ngringinrejo.

Ngringinrejo adalah nama satu desa di antara 25 desa (itu data tahun 90-an, sekarang 16 desa) yang ada di wilayah Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur.

Desa ini terletak lebih kurang 7 kilometer di sebelah barat kota Bojonegoro dan di sebelah timur kota Kalitidu. Oleh karena letaknya yang strategis, di antara dua kota Bojonegoro dan Kalitidu, dan hanya setengah kilometer dari jalan besar Bojonegoro-Cepu, desa Ngringinrejo terbilang mudah dijangkau.

Walau kalau dilihat di video ini, dimana kami melewati Bendung Gerak, berarti lewat jalan memutar sih. Mestinya bisa jauh lebih cepat.

Oya, di desa ini, tujuan kami adalah langsung ke rumah buyut, dimana sanak saudara sudah cukup banyak yang menunggu. Yang kami lakukan begitu tiba di rumah buyut adalah, tentu saja makan siang, hoho.

Makanan yang disajikan sangatlah beragam. Sebagai penutup, kami disuguhkan makanan buah kenitu, yang jujur saat itu baru pertama kali saya memakannya. Teksturnya dan rasanya mirip sawo, namun warnanya putih.

Di pekarangan rumah sudah ada tenda dan juga kursi. Ya, hari itu memang akan diadakan pengajian untuk mendoakan para sesepuh desa.

Menurut beberapa informasi, desa ini baru terbentuk sekitar tahun 1911, dua tahun sebelum eyang saya dilahirkan. Sebelumnya, di lokasi itu (Ngringinrejo sekarang) terdapat dua desa yang bernama Mejayan dan Ngringin.

Kedua desa ini, oleh Kartoprawiro (eyang buyut), kemudian digabungkan dan diberi nama: Ngringinrejo. Dengan demikian, tidak berlebihan jika eyang pernah mengatakan bahwa ayahnya merupakan "cikal bakal" atau pendiri desa Ngringinrejo.

Pengajian dihadiri oleh perangkat desa dan para tetangga. Acara berlangsung khidmat.

Rumah eyang buyut berada di sebelah masjid yang pembangunannya dahulu diinisiasi oleh eyang kakung.

Di sebelah masjid, terdapat Balai Desa Ngringinrejo, dan juga satu kompleks dengan tempat Karang Taruna beserta perangkat desa lainnya.

Malam tersebut, terdengar lantunan campur sari dari pendopo yang berada di dekat balai desa. Saya sangat senang mendengarnya. (Tadi mau tulis 'I loved it', tapi saya sedang mencoba untuk secara konsisten berbahasa Indonesia. Cukup sulit ya ternyata).

Memang, saya sangat senang mendengar suara alunan alat musik tradisional, walau bukan berarti playlist (ini apa bahasa Indonesianya?) saya berisi lagu tradisional.

Waktu sedang tinggal di Bali, saya juga begitu senang ketika jam 6 sore muncul suara alunan musik dari pura tempat orang sembahyang. Terkesan organik saja, beda dengan alunan musik dari Spotify atau iTunes yang menjadi andalan biasanya di Jakarta (ya iya lah).

Malamnya, kami pergi ke rumah saudara kami yang berada di desa Pungpungan.

Ohya, menyenangkan juga ya memiliki rumah di sebelah masjid. Jadi, kalau adzan, hanya sepelemparan batu ke masjidnya.




26 June 2026

Australia Day 7

 Day 7 of #raustraliatravelog. I had no idea that we would visit this kind of place, which look grand from afar.

Well, we walked quite far in order to reach this spot, relying on google maps.



Fun fact: The Stone (last pic) is aligned with an aperture in the roof of the Sanctuary so that a ray of sunlight falls on the word LOVE on the Stone of Remembrance at exactly 11 a.m. on 11 November, marking the hour and day of the Armistice which ended World War I.

Inside the ziggurat roof of the shrine. It was built to honour the men and women of Victoria who served in World War I, but now functions as a memorial to all Australians who have served in any war.

Its design is based on the Tomb of Mausolus and Parthenon.



Walking down the stairs. In the basement, there was a well-maintained museum about involvement of Australia in wars across the eras, including the world wars and the most recent ones (eg as the part of pasukan perdamaian PBB, what do u call it?).



I dont know what it is.



Eternal Flame. *close your eyes, give me your hand.. #lahjadinyanyi.

The Eternal Flame is placed nearby, representing eternal life. The flame has burned continuously with few interruptions since it was first lit.



You can go to (near) the roof, and then take pics from there, seeing the surrounding.



The Royal Botanic Garden is apparently adjacent to the shrine, so it's no brainer that the next stop would be that garden.

Melbourne was just being Melbourne. Cloudy in the morning, transformed into nice weather at noon. So, let's start.




While enjoying lunchbox.


Apparently we were not allowed to feed the birds. Since it's unnecessary and potentially harmful for them (see last photo for full warning from them).

Well, the birds actually surrounded us when we ate our snack. I dont know whether they liked us, they wanted our food, or they had bigger conspiracies planned.






I think one of the most outstanding features of the Royal Botanic Garden is Guilfoyle's Volcano. Since, it's very unique that perhaps not every botanic garden has this kind of scene.

Guilfoyle’s Volcano was built in 1876 and was used to store water for Melbourne Gardens.



Well, the volcano shape actually is not that noticeable, since it's short and wide. But what makes me admire it is the well-thought design and purpose of this feature.

The water reservoir in the volcano is part of the Gardens’ integrated water management system. This system includes stormwater harvesting and state-of-the-art irrigation programming and is part of the larger ‘Working Wetlands System.’ The 'Working Wetlands System' collects water that is bio-filtered through wetlands in the lakes, then pumped up to Guilfoyle’s Volcano and used for irrigation.






I think this plant is oh-so-exotique. One of many creatures from The Creator.



Wild flowers, not. I don't know actually. But such view is uncommon in tropical countries, I guess.


It was unplanned and unexpected, but for me this place brought lotta fun! Perhaps because of its interactive nature. And most importantly, it's free! lol.

The Australian Centre for the Moving Image (ACMI), the second-highest attendance of any gallery or museum in Australia, and the most visited moving image museum in the world.


Having a stroll at the bank of Yarra River. It's a very pleasant walk, with lively atmosphere, decorated by some boat restos with live music. Good vibes all around.


Random pics around Melbourne. Third pic is Melbourne Arena from afar, actually quite curious of the Rod Laver Arena where the Aus Open is usually held.

Fourth pic: fancy horse carriage, that apparently the passengers were Indonesians.


Nope, didnt enter the amusement park, and TIL the name is Luna Park, where apparently originated in USA. The face seemed familiar, that's why I took this pic. Apparently, it is the best-preserved Luna Park in the world. The original Luna Park which opened in 1903 at Coney Island, New York, closed in 1946 and was replaced by a car park.


Well, we went to St Kilda beach to enjoy our very last sunset for our trip in Melbourne. To reach the destination, we took tram and the journey was quite a lengthy one.

We arrived right on the sunset time, where in a matter of minutes, the sky turned dark and the sun waved goodbye.

What I remembered: anginnya gede banget dan dingin gila!



Do you see the penguins??? Yes, our goal when visiting this beach was to meet the penguins. My first time seeing wild penguins not in zoo/safari.


It's said that the best viewing time is 30 mins after sunset. Actually I was kinda worried that I wouldn't be able to see them. Well, I thought it's like seeing turtles in Ujung Genteng where you could only see them if you're fortunate.

Not long after we arrived, the penguins started appearing!

We can see them standing on the rocks, playing with each other.

Well, it's pretty freezing with strong wind out there. and since it's located at the end of the pier, so basically there's no wind "breaker" to save us.


In the night, before going to our accommodation, we paid a visit to a nearby teahouse called Teamoo. Well, in order to serve the tea, they did a certain way of doing it. Like, how long the leaves should be heated, and so on.

The owner was very friendly, and then he gave some kind of little gift (well, it's tea leaf) that we brought home.

It's our last night in Aussie. Thanks to @bayuadipersada for arranging the itinerary!.


Finally, it's a wrap! This photo marks the end of #raustraliatravelog. Anyway, have you ever wondered, when flying on the plane and seeing thru the window, what kind of surface lying down below? Since some of the sceneries on this flight made me wonder.

Fourth pic: I think Melb airport is pretty cool! it's like they try to fully digitalize checkin and baggage drop with very minimal human touch. Some other airports do this halfheartedly.

Fifth pic: station nearby our accommodation.

See you on the next travelog!


Featured Post

Kasih Sayang dan Syukur