16 June 2026

Yayoi Kusuma Expo - Jakarta

 #yayoikusama


Yak, hasil polling sebelumnya (sekitar 1 bulan yang lalu) menunjukkan bahwa sebagian besar voters lebih memilih saya melanjutkan postingan dengan cerita non-Turki terlebih dahulu (walau hanya menang dengan selisih 1%).

Sebenarnya saya sih ingin posting tentang Turki dahulu (karena tanggung).
Namun, sebagai insan yang baik, saya ikut aja deh apa kata netizen. #halah. Padahal mah terserah saya aja sebenernya.

Ok, tema postingan kita kali ini adalah tentang pameran seni yang saya kunjungi di tahun 2018. Hanya ada 2 sih, tapi biasanya tidak sama sekali. Jadi, menurut saya, ini adalah suatu pencapaian tersendiri. Well, tidak bisa dinamakan pencapaian juga sih.

Pameran pertama adalah Pameran Yayoi Kusama di Museum MACAN (Modern and Contemporary Art in Nusantara). Yak, saya aja sampai sekarang ga hafal-hafal kepanjangan dari MACAN ini.

Oya, Museum MACAN ini semacam galeri gitu, jadi yang dipamerkan adalah silih berganti tergantung waktunya. Tidak seperti semacam Museum Nasional, Museum Fatahillah, yang memang artifak utamanya merupakan penghuni museum tersebut secara permanen.

Waktu pertama kali mendengarnya, saya kira museum MACAN merupakan museum yang berisikan koleksi hewan-hewan yang sudah diawetkan. lol. Norak ya? Ya maklum. Lagian kenapa juga cari singkatannya MACAN.

Okay, ternyata prolog-nya panjang banget ya. .
Oya, beberapa tulisan di sini saya kutip dari sumber-sumber online ya.

Sebenarnya, kalau di Indonesia, apa sih yang membuat Yayoi Kusama terkenal? (walau sebenarnya, 'terkenal' itu sendiri relatif ya, karena saya cukup yakin yang tau beliau juga segelintir orang saja).

Dugaan saya, yang membuat terkenal adalah karena karya-karyanya yang Instagrammable, aka menarik untuk difoto dan diposting di Instagram. Kalo kata sebuah artikel, karya Yayoi memiliki banyak warna meskipun memiliki pola yang sederhana. Sehingga karyanya dapat dikategorikan sebagai pop art, sejajar dengan Andy Warhol.

Saya sendiri juga berpendapat demikian tentu saja. Tetapi ternyata karyanya (dan begitu juga banyak karya seni lainnya), more than just meet the eyes. Saya pertama kali tergelitik untuk tahu lebih dalam lagi tentang karyanya adalah ketika membaca postingan @rahmaut.

Rahma ini ketika datang ke pameran si Yayoi, ga hanya posting foto, ataupun memuji karya seni-nya, tapi juga berkisah. Nah, ini nih yang gw demen. Haha.. Kalo mau tau pendapat dia apa tentang karyanya Yayoi, langsung aja liat highlight di profile-nya @rahmaut, judulnya 'thoughts'.

Berhubung saya bukan seniman, dan bukan orang yang artsy, jadi saya tidak mengerti tentang seni. Menurut saya pribadi, seni merupakan hasil ekspresi dari perasaan manusia. Ya, lebih otak kanan daripada otak kiri, lebih dengan 'perasaan' dibandingkan dengan 'pikiran'.

Seringkali, saya menganggap sulit memahami suatu ekspresi seni, karena yang saya lihat lebih ke output-nya semata. Tetapi apabila bisa melihat di balik layarnya, mengenai akar dari munculnya karya seni tersebut, saya pikir menarik juga. Jadi, yang saya coba pahami bukanlah 'what'-nya belaka, tapi coba dipahami dengan 'why'-nya. Kalau 'why'-nya sudah dapat, rasanya hal-hal seperti 'how', 'when', dan sebagainya bisa jadi menarik juga.

Ada banyak hal yang bisa menjadi 'why' dalam suatu karya seni, seperti amarah, cinta, kesedihan, ataupun nafsu. Nah, sebagian besar karya Yayoi ini dilatarbelakangi oleh depresi dan juga kesedihan. Kesedihan? Hmm, I think I can relate with that.


Salah satu icon yang menjadi ciri khas Yayoi Kusama adalah labu polkadot. Kalo ga salah di Gandaria City juga ada labu kuning gede dengan totol-totol hitam yang dipajang. Mengapa labu?

Selama perang Dunia II, pasokan makanan di Jepang terganggu, saat itu gudang keluarga Kusama memiliki banyak persediaan Labu. Meski keseharian Kusama memakan labu sejak kecil dan terkadang membuatnya mual, Kusama tak pernah berhenti menggambar labu dalam karyanya. Baginya, labu adalah lambang kenyamanan, kerendahan hati, dan stabilitas.

Saya mencoba membaca beberapa artikel terkait Yayoi Kusama. Some of them just really couldn't grasp what she felt. .

Pendapat saya tentang item ini berubah total sejak membaca tentang kisah Yayoi.

Jadi, sejak kecil diri Yayoi sering dibayang-bayangi halusinasi. Halusinasi yang dirasakan oleh seniman kelahiran 1929 ini bukan tanpa sebab. Dan *saya rasa*, penyebab halusinasi ini adalah karena trauma dan depresi yang dialaminya.

Ia selalu mendapati binatang yang berbicara dan motif polkadot dalam setiap benda yang dilihatnya. Keriuhan dalam pikirannya inilah yang kemudian dituangkan dalam bentuk seni.

Ibunya suka memberi Yayoi kecil hukuman fisik, dan Kusama ingat bahwa bapaknya adalah "orang yang suka merayu perempuan lain".

Kusama mengaku bahwa ibunya sering menyuruhnya memata-matai perselingkuhan bapaknya sehingga memupuk ketidaksukaan Kusama terhadap seksualitas, terutama tubuh laki-laki dan falus: "Saya tidak suka seks. Saya pernah terobsesi dengan seks. Saat saya masih kecil, bapak saya punya banyak selingkuhan dan saya sempat melihat dia telanjang. Ibu menyuruh saya memata-matai bapak. Saya tidak mau berhubungan seks dengan siapapun selama bertahun-tahun […] Saya memiliki obsesi seksual dan ketakutan seks secara bersamaan."

Taukah kamu apakah falus itu? Silakan googling saja ya. Dan konon katanya Yayoi cukup sering menggunakan bentuk falus dalam karya seninya. Sepertinya sih ini salah satunya.


Dots Obsession (2017). Saat masih berusia sepuluh tahun, ia mulai mengalami halusinasi nyata berupa "kilatan cahaya, aura, atau pemandangan bintik-bintik padat".

Ia juga berhalusinasi melihat bunga yang berbicara kepada Kusama. Pola-pola kain yang dilihatnya menjadi hidup, berlipat ganda, lalu mengurung dan menutupi dirinya. Halusinasi yang dialaminya mengilhami karier artistiknya dan diberi julukan "penghancuran diri" (self-obliteration).

Bidang polkadot yang luas, dan juga "jaring tak terhingga" (infinity nets), terilhami langsung dari halusinasinya. Karya pertama yang diketahui mengandung bintik-bintik ini adalah lukisan tahun 1939 ketika Kusama berusia 10 tahun. Dalam lukisan itu terdapat seorang perempuan Jepang mengenakan kimono, diduga ibunya, yang ditutupi dan "dihancurkan" oleh bintik-bintik.

Rangkaian lukisan kanvas besar pertamanya (sebagian berukuran lebih dari 9 meter), Infinity Nets, dipenuhi oleh jaring atau bintik yang sama dengan bayangan halusinasinya.

Ms Kusama bercerita, "Suatu hari, saya sedang melihat pola bunga merah di taplak meja. Ketika saya melihat ke atas, saya juga melihat pola yang sama menutupi langit-langit, jendela, dan tembok, kemudian menutupi seluruh ruangan, tubuh saya, dan alam semesta. Saya merasa saya mulai menghancurkan diri sendiri, berputar-putar dalam ketidakterbatasan waktu dan kekakuan ruang, dan berubah menjadi ketiadaan. Saat saya sadar bahwa ini benar-benar terjadi dan bukan imajinasi belaka, saya takut. Saya tahu bahwa saya harus berlari agar kehidupan saya tidak tercerabut begitu saja oleh bunga-bunga merah. Saya berlari ke tangga. Anak-anak tangga mulai menghilang. Saya pun jatuh dari tangga sehingga betis saya terluka."

YOUR NARCISSIUM FOR SALE. Itulah tanda yang dipasang Yayoi sewaktu memasang instalasi ini tahun 1977.

Narcissus Garden yang dipamerkannya terdiri atas ratusan bola cermin luar ruangan yang ia juluki sebagai "karpet kinetik". Ketika instalasi ini dipasang di pekarangan di luar paviliun Italia, Kusama, sambil mengenakan kimono emas, menjual bola-bola tersebut seharga USD2 per unit sampai dilarang oleh panitia.

Narcissus Garden adalah karya seni tentang promosi seniman melalui media sekaligus sindiran terhadap mekanisasi dan pergeseran pasar seni menjadi komoditas.

Waktu datang ke pamerannya, saya sama sekali tidak mengetahui tentang Yayoi. Oleh karena waktu yang diberikan begitu terbatas (jadi, ada limit waktu untuk tiap sesi kunjungan), dan karya yang dipamerkan juga banyak, jadi cukup banyak yang mesti saya lewatkan.

Kalau hanya lihat foto-nya sepintas, komentar pertama saya adalah "hmm, freak ya orangnya. Wajar sih, seniman". Apalagi pas melihat foto dia makan-makan bunga, jujur saja saya ingin ketawa. Kemudian saya melihat satu video yang berjudul Song of A Manhattan Suicide Addict. Saya perhatikan dia secara lebih fokus. And it hits me.

Lirik lagunya sebagai berikut:
"Swallow antidepressants and it will be gone
Tear down the gate of hallucinations
Amidst the agony of flowers, the present never ends
At the stairs to heaven, my heart expires in their tenderness
Calling from the sky, doubtless, transparent in its shade of blue
Embraced with the shadow of illusion
Cumulonimbi arise
Sounds of tears, shed upon eating the colour of cotton rose
I become a stone
Not in time eternal
But in the present that transpires."

Kalau saya tilik lagi, ekspresi Yayoi di foto-foto tersebut, dan juga beberapa video-nya, yang saya tangkap adalah kesedihan yang teramat sangat, ketakutan, kekhawatiran. Kemudian tak bisa dihindari, saya ikut sedih juga. Rasanya pengen memeluk dia dan bilang, "it's alright, grandma. it's alright".

Kusama memeriksa kesehatan jiwanya di Rumah Sakit Seiwa pada tahun 1977. Atas kehendaknya sendiri, ia memutuskan tinggal di rumah sakit secara permanen. Kusama sering mengatakan, "Kalau bukan karena seni, saya mungkin sudah bunuh diri." .

The Spirit of the Pumpkins Descend into the Heaven, one of the famous mirrored installations by Yayoi Kusama.

Another famous one would be the Infinity Mirrored Room, that I didnt enter due to long queue and time constraint.

Looking at the explanation on an article, I think it'd be interesting to enter the room and immerse oneself in it. It's said that the quiet, meditative space is a reflection on life and the inevitability of death- subjects that have fascinated Kusama since she was a child. She explains that her work "does battle at the boundary between life and death, questioning what we are and what it means to live and die."

By encouraging visitors to contemplate their existence Kusama's ethereal work emphasizes the interconnectedness we have to each other and the universe. "By using light, their reflection, and so on, I wanted to show the cosmic image beyond the world where we live."

Perhaps the thing that makes Yayoi's art interesting is its interactivity, where unconventional performance events increasingly relying on audience reaction and direct participation. The audiences even could become the part of the art too.


One of the sample is The Obliteration Room, where we could put the colorful round stickers anywhere.

An author has an opinion: “A dot looks like an atom. When we wake up, sometimes, when we open our eyes, we see many small dots. The dots spread in the vast world and it fills our world. I immediately made a connection with the dots.” Another person may have different opinion. Perhaps a dot is an event, so dots are events accumulating throughout the time. Or dots are merely the coping mechanism to obliterates the ongoing minutiae of life.

After knowing the background of her art, I think I can find myself submerged, fascinated at the intriguing tension between pain, passion, obsession, obliteration, sobriety, mischief, fear, brazenness, imprisonment and release – all ironic juxtapositions of a living expression

15 April 2022

Palembang Day 2

 Tujuan utama hari itu adalah menghadiri acara pernikahan kawan kami, @krisnadibyo93 dan @kennabila.


Terdapat beberapa hal yang menarik dari pernikahan tersebut:
1. Di awal acara, ada sesi dimana pengantin wanitanya menari dengan luwesnya. Adapun pengantin prianya melihat dengan terkesima (mungkin ingin ikut menari juga). Di Medan juga ada prosesi dimana pengantinnya menari ya kalo ga salah.
2. Seluruh hadirin duduk di kursi yang sudah disediakan dan menghadap panggung pelaminan. Konsepnya mirip kalo ada seminar gitu kali ya. Kalo di Jkt, sebagian besar kan standing party. Atau juga ada yg konsep dimana ada beberapa round table gitu.
3. Saat memasuki pelataran gedung pernikahan, ada banner yang sangaaat besar berisikan foto kedua mempelai. Ini jarang banget ada di Jakarta.
4. Sajian makanannya berupa masakan Palembang (ya iya laaah).
.
We're so happy seeing both of you looking fantastic and ecstatic. Semogaaa selalu diberikan kebahagiaan dan keberkahaaan. Aamiin




13:53. Dari acara pernikahan, kami kemudian mengunjungi sebuah museum. Yaa, impromptu aja sih, ga ada rencana gitu sebelumnya mau mengunjungi museum apa.

Nama museumnya adalah Balaputradewa. Museum ini terletak di kawasan KM 6,5 Kota Palembang. Di beberapa kota, menarik ya penggunaan "km" untuk ancer2 suatu tempat. Soalnya di Jakarta tampaknya hampir ga pernah digunakan.



kondisi museum pada saat itu super sepi! Kirain tutup, tapi untunglah ternyata buka. Di tempat parkir pun hanya ada mobil sewaan kami dan satu mobil lainnya.

Pas masuk, ternyata lumayan bersih kok. Ga serapih Museum Purbakala di Sangiran sih, tapi acceptable lah.

Oya, nama museum ini, Balaputra Dewa diambil dari nama Raja Sriwijaya abad ke-9 dan mantan kepala Dinasti Sailendra yang berpusat di sekitar Palembang. Pastinya udah pernah denger dong nama Sailendra dan Balaputra Dewa?

Di museum ini terdapat tiga ruang pamer utama. Nah, sebelum memasuki ruang pamer, kami menyaksikan berbagai koleksi arca di selasar museum. Berbagai replika arca tersebut berasal dari zaman megalith di Sumatera Selatan.

Berbagai arca yang saat ini menjadi koleksi museum antara lain arca megalith ibu menggendong anak, arca orang menunggang kerbau, hingga arca manusia dililit ular.



Menurut Van der Hoop, peneliti asal Belanda, Sumatera Selatan merupakan salah satu wilayah di nusantara yang banyak ditemukan pemukiman dari zaman megalith.

Beranjak ke ruang museum, kami melihat koleksi zaman Kerajaan Sriwijaya, zaman Kesultanan Palembang, hingga pergerakan pejuang kemerdekaan pada zaman kolonialisme Belanda. Yaa, based on historical order lah, dari prasejarah kemudian ke zaman sejarah.



PRASASTI. Memasuki ruang pamer museum, kami disajikan informasi tentang awal mula sejarah berdirinya Kerajaan Sriwijaya di nusantara.

Pada bagian lain ditemukan berbagai replika prasasti yang menjelaskan awal mula berdirinya Kerajaan Sriwijaya. Prasasti-prasasti tersebut antara lain, prasasti Kedukan Bukit, Relaga Batu, Kota Kapur, Talang Tuo, dan sebagainya. Familiar kan dengan nama2nya?

Sebagian besar prasasti zaman Sriwijaya yang ada di museum tersebut adalah replika, yang asli sebagian besar ditempatkan di Museum Nasional di Jakarta dan di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya Palembang.



Galeri Melaka: Bandaraya Warisan Dunia. WAIIIT, ada apa ini? Kenapa ada Malaysia di Palembang? Melaka di Malaysia kayaknya berbudaya/berbahasa Melayu. Palembang juga?

Kalo hasil googling, saya juga baru sadar bahwa Bahasa Melayu dituturkan mulai sepanjang pantai timur Sumatra, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Jambi, Lampung, Sumatra Selatan, Bengkulu hingga pesisir Pulau Borneo. I see. Jadi memang secara bahasa memang satu rumpun ya.

Tapi, kenapa mereka sampe bikin 1 section sendiri di kita punya museum? What are they trying to do?
Apakah memang ada hubungan antara Kerajaan Melaka dengan Indonesia? Mengapa ada koleksi benda bersejarah milik Kerajaan Melaka tersimpan di Palembang?

"Pendiri Kerajaan Melaka sebenarnya adalah orang asli Palembang bernama Parameswara. Dia adalah anak raja Sriwijaya yang melarikan diri hingga ke Temasik (Singapura) dan akhirnya mendirikan Melaka. Namanya berganti menjadi Iskandar Syah dan menjadi raja pertama di sana"

Akar budaya masyarakat Melaka pada dasarnya berawal dari Indonesia, terutama Palembang dan juga Jawa. Banyak kemiripan budaya yang bisa dijumpai, dari mulai segi bahasa maupun pakaian.

Pakaian sehari-hari untuk wanita juga kebaya, sama seperti kita. Dari segi bahasa juga mirip-mirip, kata-katanya banyak yang berasal dari bahasa Jawa. Oleh karena Indonesia, terutama Palembang dianggap sebagai nenek moyang bangsa mereka, pihak Kerajaan Melaka memutuskan untuk menjalin kerja sama dan menyumbangkan beberapa koleksinya untuk dipajang di Museum Balaputra Dewa sejak beberapa tahun silam.

Sebagai bentuk kerja sama antar keduanya, pihak Museum Balaputra Dewa juga mengirimkan beberapa koleksi benda bersejarah peninggalan Kerajaan Sriwijaya untuk dipamerkan di Museum Melaka. Ini adalah konsep pertukaran budaya yang disepakati oleh kedua pihak tersebut.

Dengan adanya pertukaran koleksi antar kedua museum ini, masyarakat Melaka bisa mengetahui asal usul akar budaya mereka, sementara penduduk Palembang juga bisa tahu bahwa budaya mereka dipakai menjadi identitas awal berdirinya Kesultanan Melaka.



Ada yang tau rumah ini ada di duit berapa? Yak, duit 10ribuan! Bukan berarti harga rumahnya 10 ribu lho. Luasnya aja berkisar antara 400-1000 meter persegi. Wadaww.

Pada bagian belakang bangunan ruang pamer museum, terdapat rumah limas yang merupakan bangunan tempat tinggal khas masyarakat Kota Palembang yang terbuat dari kayu.

Rumah limas yang berusia lebih dari 200 tahun masih terlihat berdiri kokoh

Sebelum ditempatkan di kawasan Museum Balaputra Dewa, rumah limas tersebut berada di tepian Sungai Musi yang merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Palembang pada abad ke-17.

Btw, kita kenapa ga foto bareng duit 10ribuan ya @krishna_malikk
@dennice_herpudyo @clementinetrifosa @rosaliaad ? Foto kedua ngembat dari internet 🙈



15:28 Sebagai netizen yang baik, yang kami lakukan ketika sedang traveling tentu saja: gadgeting! Lol. Sebetulnya agak bingung mau jalan2 kemana. Terus kemudian ada cafe mungil dengan dekorasi yang cukup unik ini utk duduk2 sebentar.

Btw, bener ga sih nama cafenya ini? 🤣





16:13 Katanya, belum ke Palembang kalau belum makan Pempek di sana. Ga tau deh kata siapa, ngarang aja.

Sebenarnya banyak pilihan pempek di Palembang. Kali itu kami ke Pempek VICO yang lokasinya tepat berada di tempat kami menginap. Kala itu tempatnya sudah ramai!

Asal mula pempek memang berasal dari Palembang, namun sejarah asal mula hidangan ini kurang jelas. Dongeng tradisional mengaitkannya dengan pengaruh kuliner Tionghoa (dan dimana pempek berasal dari kata apek-apek karena yang jualan adalah seorang kakek-kakek asal Tionghoa). Tadinya saya mau copas versi ini saja karena seru, tapi ternyata ada yang debunk dengan alasan-alasan yang make sense, jadi batal deh. haha

Sebagian sejarawan menyebutkan bahwa pempek mungkin berasal dari makanan kuno yang disebut kelesan, makanan kukus yang dibuat dari campuran adonan sagu dan daging ikan, dan diperkirakan sudah ada sejak zaman kerajaan Sriwijaya pada kurun abad VII Masehi.




Kami mengunjungi Masjid Agung Palembang. Kayaknya kami masuk dari pintu samping, soalnya kalo browsing di internet, bentuknya beda gitu.Di internet, terlihat atapnya limas dengan ada jurai di sisinya, semacam klenteng. Nah, kalo dari pintu samping ini tidak terlihat.

Mulai dibangun pada tahun 1738, masjid terbesar di Palembang ini didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo (dan tentu para pekerjanya).

Memasuki masjid, kesan megah langsung terasa dengan langit-langit yang tinggi, material lantai marmer, dan bawah kubah serta lampu gantung yang elegan.




Masjid Agung Palembang ini selain mengadaptasi arsitektur Tionghoa, juga memiliki unsur dari Eropa, seperti dapat dilihat dari pemakaian stained glass pada jendela super besar ini (ini jendela atau pintu sih?). Selain itu, juga terdapat tiang-tiang besar yang megah.




Masuk ke ruang utama, nuansa nusantara akan terasa kental. Hmm, bagaimana mendeskripsikan nuansa nusantara? Mungkin karena banyak ukiran kayu kaligrafi kali ya, yang tampaknya unik nusantara. Di luar negeri ada hal serupa ngga ya? sans SEA of course.




I think the masjid is beautiful, masyaAllah. It exudes the vibes that telling me that it has seen so many things, and will continue to see things going forward. well, still many parts of the masjid that I missed to explore.

Sebagian besar kayu yang terdapat di arsitektur masjid memiliki ukiran khas Palembang yang disebut Lekeur.




18:10. From Jalan Ampera to Jembatan Ampera. Tak lengkap bila ke Palembang tapi tidak ke jembatan ini, yang sepertinya jembatan melintasi sungai paling terkenal se-Indonesia ya. Jembatan lain yang terkenal mungkin Suramadu dan Semanggi yang memang beda peruntukan.

Dan memang menarik sih jalan sore di jembatan ini. Karena first timer kali ya.

Selanjutnya saya sadur dari wiki, wkwk.

Pembangunan jembatan ini dimulai pada bulan April 1962, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana rampasan perang Jepang. Bukan hanya biaya, jembatan inipun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut.

Pada awalnya, jembatan ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu.

Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Pada saat itu, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia tenggara.

Setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat).




Jembatan Ampera ini panjangnya 1.177 m (berarti lebih dari sekilo), lebar 22 m. Dulunya, bagian tengah bisa diangkat agar kapal-kapal besar bisa lewat namun sejak tahun 1970 bagian tengah sudah tidak dapat diangkat lagi (atau bisa diangkat tapi aturannya emang jangan diangkat karena kelamaan nunggu proses naik turunnya). Tapi padahal belom ada 10 taun tapi fungsi naik turun sudah ga dipake lagi ya.

Penasaran kayak gimana ya kalo diangkat gitu, coba nyari videonya tapi belom nemu.






19:00. Seselesainya menikmati Jembatan Ampera, kami menuju parkiran mobil dan tidak sengaja melewati MONPERA (Monumen Perjuangan Rakyat).

Apa latar belakang dibuatnya monumen ini? Jadi, pada Januari 1947, Belanda menyerang Kota Palembang dengan mengerahkan tank dan artileri. Penjajah Belanda juga menembaki pejuang nasionalis dari kapal perang dan boat, menjatuhkan bom serta granat. Pertempuran itu terjadi di hampir seluruh wilayah Kota Palembang selama 5 hari 5 malam dan menghancurkan sebagian kota ini.

Untuk memperingati peristiwa tersebut, Legiun Veteran Sumatera Selatan berinisiatif untuk membangun sebuah monumen peringatan. Pembangunan monumen selesai pada 1988.

Bentuk Monpera menyerupai bunga melati bermahkota lima. Melati menyimbolkan kesucian hati para pejuang, sedangkan lima sisi manggambarkan lima wilayah keresidenan yang tergabung dalam Sub Komandemen Sumatera Selatan.

Sedangkan jalur menuju ke bangunan utama Monpera berjumlah 9, yaitu 3 di sisi kiri, 3 di sisi kanan, dan 3 di sisi bagian belakang. Angka 9 tersebut mengandung makna kebersamaan masyarakat Palembang yang dikenal dengan istilah “Batang Hari Sembilan”.

Sementara tinggi bangunan Monpera mencapai 17 meter, memiliki 8 lantai, dan 45 bidang/jalur. Angka-angka tersebut mewakili tanggal proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.

Sebenernya kayaknya menarik ya monumen ini untuk dieksplor, di LN tampaknya jg quite common monumen2 semacam ini. Sayang waktu itu sudah malam, jadi sudah tutup juga.




19:33. Saya termasuk orang yang suka nyobain makanan. Jadi, waktu berkunjung ke daerah baru, biasanya coba cari tempat makan yang autentik daerah tersebut. Nah, malam itu kami memutuskan makan di Pizza Hut. Ya engga lah.

Jadi, kami mencoba RM Pindang Musi Rawas. Sesuai namanya, menu andalannya adalah pindangnya. Sebenarnya, saya bukan penggemar pindang, tapi bisa lah makan pindang. Waktu ke sini, yaa sama aja. haha. Enak sih, tapi memang pada dasarnya kurang prefer aja. Kayaknya makanan pindang2 yang saya doyan itu telor pindang.

In general, makanannya enak2. Walau saya sudah lupa sih kalo boleh jujur, lol. Yang saya incar itu adalah Brengkes Tempoyaknya tentu saja, alias tempoyak durian. Durian yang telah difermentasikan.

Rasanya memang unik sih, one of a kind lah, haha. Bagi saya, edible. Tapi bukan favorit. Sekali kali gapapa lah, tapi bukan untuk dimakan setiap hari juga.




07:50. This marks the final post of my #rpalembangtravelog. In the morning, I went to have a breakfast at Mie Celor stall. Thanks to ride-hailing, it made my mobility much easier nowadays.

Okay, back to Mie Celor. Ini saya bukan sok imut ya, nulis telor jadi celor. Namanya emang pake C, as in Cicak, Coro, Cabe. C. Kayak orang juga denger Coto Makassar, dibilangnya sok imut. Hadehh.

Jadi, mie celor merupakan hidangan mi yang disajikan dalam campuran kuah santan dan kaldu ebi (udang kering), dicampurkan taoge dan disajikan bersama irisan telur rebus, ditaburi irisan seledri, daun bawang dan bawang goreng. 

Enak apa engga? Menurut saya, ENAK BANGET! Kuahnya kental macam Seirockya Ramen itu. #halah. Saya sih lebih suka ini dibandingkan pindang ya.

Mie celor ini kayaknya ada beberapa cabang, saya pilih yang deket penginapan saja, deket pasar gitu. Pas itu tempatnya sepi banget, udah waswas kalo ga enak. Ternyata, mantabbb!

Abis dari sini, saya pun pergi beli ke tempat pempek, kali ini ke Pempek Candy. Kenapa namanya Candy? entahlah, walau menurut saya agak kurang menujukkan ke-Palembang-annya sih. Interior si Pempek Candy ini menurut saya sangat oke, sungguh kekotaan, tampaknya baru dibangun ya dibanding yang Vico kemaren.

Setelah beli pempek untuk oleh-oleh, saya pun siap2 kembali ke Jakarta, rencananya naik bis. Kenapa naik bis? Karena belum pernah! Kebetulan saat itu waktu saya sedang lowong karena tidak bekerja, jadi ingin berpetualang saja naik bus. Sayangnya katanya saat itu jalannya lagi putus karena apaa gitu, jadinya tiket saya dicancel. Sedih.

Featured Post

Kasih Sayang dan Syukur