Yak, hasil polling sebelumnya (sekitar 1 bulan yang lalu) menunjukkan bahwa sebagian besar voters lebih memilih saya melanjutkan postingan dengan cerita non-Turki terlebih dahulu (walau hanya menang dengan selisih 1%).
Sebenarnya saya sih ingin posting tentang Turki dahulu (karena tanggung).
Namun, sebagai insan yang baik, saya ikut aja deh apa kata netizen. #halah. Padahal mah terserah saya aja sebenernya.
Ok, tema postingan kita kali ini adalah tentang pameran seni yang saya kunjungi di tahun 2018. Hanya ada 2 sih, tapi biasanya tidak sama sekali. Jadi, menurut saya, ini adalah suatu pencapaian tersendiri. Well, tidak bisa dinamakan pencapaian juga sih.
Pameran pertama adalah Pameran Yayoi Kusama di Museum MACAN (Modern and Contemporary Art in Nusantara). Yak, saya aja sampai sekarang ga hafal-hafal kepanjangan dari MACAN ini.
Oya, Museum MACAN ini semacam galeri gitu, jadi yang dipamerkan adalah silih berganti tergantung waktunya. Tidak seperti semacam Museum Nasional, Museum Fatahillah, yang memang artifak utamanya merupakan penghuni museum tersebut secara permanen.
Waktu pertama kali mendengarnya, saya kira museum MACAN merupakan museum yang berisikan koleksi hewan-hewan yang sudah diawetkan. lol. Norak ya? Ya maklum. Lagian kenapa juga cari singkatannya MACAN.
Okay, ternyata prolog-nya panjang banget ya. .
Oya, beberapa tulisan di sini saya kutip dari sumber-sumber online ya.
Sebenarnya, kalau di Indonesia, apa sih yang membuat Yayoi Kusama terkenal? (walau sebenarnya, 'terkenal' itu sendiri relatif ya, karena saya cukup yakin yang tau beliau juga segelintir orang saja).
Dugaan saya, yang membuat terkenal adalah karena karya-karyanya yang Instagrammable, aka menarik untuk difoto dan diposting di Instagram. Kalo kata sebuah artikel, karya Yayoi memiliki banyak warna meskipun memiliki pola yang sederhana. Sehingga karyanya dapat dikategorikan sebagai pop art, sejajar dengan Andy Warhol.
Saya sendiri juga berpendapat demikian tentu saja. Tetapi ternyata karyanya (dan begitu juga banyak karya seni lainnya), more than just meet the eyes. Saya pertama kali tergelitik untuk tahu lebih dalam lagi tentang karyanya adalah ketika membaca postingan @rahmaut.
Rahma ini ketika datang ke pameran si Yayoi, ga hanya posting foto, ataupun memuji karya seni-nya, tapi juga berkisah. Nah, ini nih yang gw demen. Haha.. Kalo mau tau pendapat dia apa tentang karyanya Yayoi, langsung aja liat highlight di profile-nya @rahmaut, judulnya 'thoughts'.
Berhubung saya bukan seniman, dan bukan orang yang artsy, jadi saya tidak mengerti tentang seni. Menurut saya pribadi, seni merupakan hasil ekspresi dari perasaan manusia. Ya, lebih otak kanan daripada otak kiri, lebih dengan 'perasaan' dibandingkan dengan 'pikiran'.
Seringkali, saya menganggap sulit memahami suatu ekspresi seni, karena yang saya lihat lebih ke output-nya semata. Tetapi apabila bisa melihat di balik layarnya, mengenai akar dari munculnya karya seni tersebut, saya pikir menarik juga. Jadi, yang saya coba pahami bukanlah 'what'-nya belaka, tapi coba dipahami dengan 'why'-nya. Kalau 'why'-nya sudah dapat, rasanya hal-hal seperti 'how', 'when', dan sebagainya bisa jadi menarik juga.
Ada banyak hal yang bisa menjadi 'why' dalam suatu karya seni, seperti amarah, cinta, kesedihan, ataupun nafsu. Nah, sebagian besar karya Yayoi ini dilatarbelakangi oleh depresi dan juga kesedihan. Kesedihan? Hmm, I think I can relate with that.
Salah satu icon yang menjadi ciri khas Yayoi Kusama adalah labu polkadot. Kalo ga salah di Gandaria City juga ada labu kuning gede dengan totol-totol hitam yang dipajang. Mengapa labu?
Selama perang Dunia II, pasokan makanan di Jepang terganggu, saat itu gudang keluarga Kusama memiliki banyak persediaan Labu. Meski keseharian Kusama memakan labu sejak kecil dan terkadang membuatnya mual, Kusama tak pernah berhenti menggambar labu dalam karyanya. Baginya, labu adalah lambang kenyamanan, kerendahan hati, dan stabilitas.
Saya mencoba membaca beberapa artikel terkait Yayoi Kusama. Some of them just really couldn't grasp what she felt. .
Pendapat saya tentang item ini berubah total sejak membaca tentang kisah Yayoi.
Jadi, sejak kecil diri Yayoi sering dibayang-bayangi halusinasi. Halusinasi yang dirasakan oleh seniman kelahiran 1929 ini bukan tanpa sebab. Dan *saya rasa*, penyebab halusinasi ini adalah karena trauma dan depresi yang dialaminya.
Ia selalu mendapati binatang yang berbicara dan motif polkadot dalam setiap benda yang dilihatnya. Keriuhan dalam pikirannya inilah yang kemudian dituangkan dalam bentuk seni.
Ibunya suka memberi Yayoi kecil hukuman fisik, dan Kusama ingat bahwa bapaknya adalah "orang yang suka merayu perempuan lain".
Kusama mengaku bahwa ibunya sering menyuruhnya memata-matai perselingkuhan bapaknya sehingga memupuk ketidaksukaan Kusama terhadap seksualitas, terutama tubuh laki-laki dan falus: "Saya tidak suka seks. Saya pernah terobsesi dengan seks. Saat saya masih kecil, bapak saya punya banyak selingkuhan dan saya sempat melihat dia telanjang. Ibu menyuruh saya memata-matai bapak. Saya tidak mau berhubungan seks dengan siapapun selama bertahun-tahun […] Saya memiliki obsesi seksual dan ketakutan seks secara bersamaan."
Taukah kamu apakah falus itu? Silakan googling saja ya. Dan konon katanya Yayoi cukup sering menggunakan bentuk falus dalam karya seninya. Sepertinya sih ini salah satunya.
Dots Obsession (2017). Saat masih berusia sepuluh tahun, ia mulai mengalami halusinasi nyata berupa "kilatan cahaya, aura, atau pemandangan bintik-bintik padat".
Ia juga berhalusinasi melihat bunga yang berbicara kepada Kusama. Pola-pola kain yang dilihatnya menjadi hidup, berlipat ganda, lalu mengurung dan menutupi dirinya. Halusinasi yang dialaminya mengilhami karier artistiknya dan diberi julukan "penghancuran diri" (self-obliteration).
Bidang polkadot yang luas, dan juga "jaring tak terhingga" (infinity nets), terilhami langsung dari halusinasinya. Karya pertama yang diketahui mengandung bintik-bintik ini adalah lukisan tahun 1939 ketika Kusama berusia 10 tahun. Dalam lukisan itu terdapat seorang perempuan Jepang mengenakan kimono, diduga ibunya, yang ditutupi dan "dihancurkan" oleh bintik-bintik.
Rangkaian lukisan kanvas besar pertamanya (sebagian berukuran lebih dari 9 meter), Infinity Nets, dipenuhi oleh jaring atau bintik yang sama dengan bayangan halusinasinya.
Ms Kusama bercerita, "Suatu hari, saya sedang melihat pola bunga merah di taplak meja. Ketika saya melihat ke atas, saya juga melihat pola yang sama menutupi langit-langit, jendela, dan tembok, kemudian menutupi seluruh ruangan, tubuh saya, dan alam semesta. Saya merasa saya mulai menghancurkan diri sendiri, berputar-putar dalam ketidakterbatasan waktu dan kekakuan ruang, dan berubah menjadi ketiadaan. Saat saya sadar bahwa ini benar-benar terjadi dan bukan imajinasi belaka, saya takut. Saya tahu bahwa saya harus berlari agar kehidupan saya tidak tercerabut begitu saja oleh bunga-bunga merah. Saya berlari ke tangga. Anak-anak tangga mulai menghilang. Saya pun jatuh dari tangga sehingga betis saya terluka."
YOUR NARCISSIUM FOR SALE. Itulah tanda yang dipasang Yayoi sewaktu memasang instalasi ini tahun 1977.
Narcissus Garden yang dipamerkannya terdiri atas ratusan bola cermin luar ruangan yang ia juluki sebagai "karpet kinetik". Ketika instalasi ini dipasang di pekarangan di luar paviliun Italia, Kusama, sambil mengenakan kimono emas, menjual bola-bola tersebut seharga USD2 per unit sampai dilarang oleh panitia.
Narcissus Garden adalah karya seni tentang promosi seniman melalui media sekaligus sindiran terhadap mekanisasi dan pergeseran pasar seni menjadi komoditas.
Waktu datang ke pamerannya, saya sama sekali tidak mengetahui tentang Yayoi. Oleh karena waktu yang diberikan begitu terbatas (jadi, ada limit waktu untuk tiap sesi kunjungan), dan karya yang dipamerkan juga banyak, jadi cukup banyak yang mesti saya lewatkan.
Kalau hanya lihat foto-nya sepintas, komentar pertama saya adalah "hmm, freak ya orangnya. Wajar sih, seniman". Apalagi pas melihat foto dia makan-makan bunga, jujur saja saya ingin ketawa. Kemudian saya melihat satu video yang berjudul Song of A Manhattan Suicide Addict. Saya perhatikan dia secara lebih fokus. And it hits me.
Lirik lagunya sebagai berikut:
"Swallow antidepressants and it will be gone
Tear down the gate of hallucinations
Amidst the agony of flowers, the present never ends
At the stairs to heaven, my heart expires in their tenderness
Calling from the sky, doubtless, transparent in its shade of blue
Embraced with the shadow of illusion
Cumulonimbi arise
Sounds of tears, shed upon eating the colour of cotton rose
I become a stone
Not in time eternal
But in the present that transpires."
Kalau saya tilik lagi, ekspresi Yayoi di foto-foto tersebut, dan juga beberapa video-nya, yang saya tangkap adalah kesedihan yang teramat sangat, ketakutan, kekhawatiran. Kemudian tak bisa dihindari, saya ikut sedih juga. Rasanya pengen memeluk dia dan bilang, "it's alright, grandma. it's alright".
Kusama memeriksa kesehatan jiwanya di Rumah Sakit Seiwa pada tahun 1977. Atas kehendaknya sendiri, ia memutuskan tinggal di rumah sakit secara permanen. Kusama sering mengatakan, "Kalau bukan karena seni, saya mungkin sudah bunuh diri." .
The Spirit of the Pumpkins Descend into the Heaven, one of the famous mirrored installations by Yayoi Kusama.
Another famous one would be the Infinity Mirrored Room, that I didnt enter due to long queue and time constraint.
Looking at the explanation on an article, I think it'd be interesting to enter the room and immerse oneself in it. It's said that the quiet, meditative space is a reflection on life and the inevitability of death- subjects that have fascinated Kusama since she was a child. She explains that her work "does battle at the boundary between life and death, questioning what we are and what it means to live and die."
By encouraging visitors to contemplate their existence Kusama's ethereal work emphasizes the interconnectedness we have to each other and the universe. "By using light, their reflection, and so on, I wanted to show the cosmic image beyond the world where we live."
Perhaps the thing that makes Yayoi's art interesting is its interactivity, where unconventional performance events increasingly relying on audience reaction and direct participation. The audiences even could become the part of the art too.
One of the sample is The Obliteration Room, where we could put the colorful round stickers anywhere.
An author has an opinion: “A dot looks like an atom. When we wake up, sometimes, when we open our eyes, we see many small dots. The dots spread in the vast world and it fills our world. I immediately made a connection with the dots.” Another person may have different opinion. Perhaps a dot is an event, so dots are events accumulating throughout the time. Or dots are merely the coping mechanism to obliterates the ongoing minutiae of life.
After knowing the background of her art, I think I can find myself submerged, fascinated at the intriguing tension between pain, passion, obsession, obliteration, sobriety, mischief, fear, brazenness, imprisonment and release – all ironic juxtapositions of a living expression