25 August 2026

Napak Tilas Bojonegoro Day 2

 

<<image 1>>


Acara keesokan harinya adalah berkeliling. Kami berjalan kaki dahulu melihat sekitar. Hanya 5 menit berjalan, kami sudah bisa bersua dengan Sungai Bengawan Solo yang terkenal itu.
.
Terlihat sebuah perahu sedang berlayar mendekat, berisi beberapa penumpang beserta kendaraan mereka menyeberangi sungai.
.
Kata wiki, Solo adalah sungai terpanjang di Pulau Jawa, dengan dua hulu sungai yaitu dari daerah Pegunungan Sewu dan Ponorogo, selanjutnya bermuara di daerah Gresik. "Bengawan" dalam bahasa Jawa berarti "sungai yang besar". #barutau 😂
.
Pada masa lalu, sungai ini pernah dinamakan Wuluyu, Wulayu, dan Semanggi (dieja Semangy dalam naskah bahasa Belanda abad ke-17)
.
Dan, mestinya ini dikasih latar lagu "Bengawan Solo" nih, yang menurut saya lagu Indonesia yang paling klasik dan mendunia.


<< image 2>>

Dari pinggir sungai, kami melakukan perjalanan kembali. Lima menit berselang, sawah-sawah hijau muncul ke hadapan. Mentari pagi yang berpendar keemasan membuat paduan warna hijau dan jingga berpadu indah. Embun pagi menyegarkan. Rasanya pas kalau lagu Zamrud Khatulistiwa menjadi latar.
.
Dasar anak kota, ketemu sawah saja bisa bikin girang.


<<image 3>>

Kami bertemu dengan para petani yang sedang menjaga sawahnya dari ancaman burung. Cara menjaga sawahnya bermacam-macam, ada yang dengan cara menggoyangkan tali yang terhubung dengan orang-orangan sawah. Terkadang pada tali tersebut, terdapat kaleng-kaleng yang berbunyi ketika bergerak.
.
Selain itu, ada juga yang mengusir burung dengan cara menabuh kaleng yang dia bawa sambil berteriak-teriak, seperti yang dilakukan seorang ibu pada video berikut. Gaduh sekali.
.
Ohya, jalan desa ini terbuat dari conblock dan bukannya aspal. Bagusss.


<<image 4>>

Tidak seorangpun yang mengetahui secara pasti, mengapa desa di tepi sungai itu diberi nama Ngringinrejo. Yang jelas, banyak yang menafsirkan nama ini sebagai "tempat yang teduh dan ramai". Penafsiran mana, bila dikaitkan dengan kata "ringin" (pohon beringin) dan "rejo" (ramai), memang terlihat tidak mengada-ada. Semua orang (terlebih lagi orang jawa) sudah mahfum bahwa "ringin" (pohon beringin) itu melambangkan (baca: menjanjikan) suasana teduh.
.
Meskipun demikian, Ngringinrejo ternyata juga dimaknai oleh sebagian orang secara harfiah, yakni "ringin" yang "rejo". Artinya, pohon beringin yang ramai. Lalu, pengertian ini kemudian diperluas menjadi, tempat yang banyak ditumbuhi pohon beringin, dan ramai ditinggali orang.
.
Nah, terus yang saya foto adalah sawah, mana pohon beringinnya? Gapapa lah ya, yang punya akun mah bebas 😜.
.
Ohya, terdapat foto dengan bayangan si fotografer ikut numpang ikut (photobomb). Tak apa lah ya, yang penting target foto di tengah sawah sudah terlaksana.

<<image 5>>

Sejam berlalu (80% digunakan untuk foto-foto), kami akhirnya sampai di Bendung Gerak. Kami melakukan inspeksi terhadap proyek yang sedang dilakukan di bendungan ini. Bohong deng. Yang kami lakukan tidak lain dan tidak bukan adalah membeli kudapan dan kopi/teh.
.
Keberadaan Bendung Gerak, yang membendung sungai Bengawan Solo ini, fungsinya di samping sebagai penyedia air untuk rumah tangga, pertanian, juga sekaligus menjaga dari kerusakan ekosistem sungai Bengawan Solo supaya tak meluas ketika banjir menerjang dan sebagai bentuk tata kelola air di Jawa Timur.

Sebelumnya petani hanya bisa melakukan tanam dua kali setahun, sekarang diharapkan bertambah menjadi tiga kali tanam dalam setahun.
.
Dulu sekitar 21 ribu hektare lahan pertanian padi di Bojonegoro Barat andalkan pertanian tadah hujan. Setelah ada pompanisasi, wilayah itu tidak mampu melakukan 2 kali panen dalam setahun. Maka sawah beririgasi dengan pompa air menjadi menjadi 6000 ribu hektare. Dengan adanya bendungan gerak ini 11 ribu hektare sawah akan bisa ditanami dua kali setahun. (diambil dari wiki, tentu saja).


<<image 6 >>

Foto ini diambil dari dalam sungai Bengawan Solo, in a way. Ini berada pada bagian kering dari bendungan.
.
Mas Andi mengajak kami melanjutkan berkeliling menggunakan mobil, syukur alhamdulillah.
.
Tujuan pertama adalah berkunjung ke sisi surut dari Bendung Gerak. Pada sisi surut ini (oke, saya sebenarnya asal saja menamakan sisi surut. Jadi, yang namanya bendungan kan ada dua sisi. Satu sisi merupakan tempat air dibendung, dan satu sisi dimana air keluar perlahan-lahan, dan permukaannya lebih rendah dari sisi bendung tersebut).
.
Saya selalu berpikir bahwa ikan hanya banyak terdapat pada sisi bendung, karena di situ banyak terdapat air. Banyak air -> banyak ikan. Namun, saya ternyata salah. Pada sisi surut juga terdapat banyak ikan. Saya baru tahu bahwa beberapa jenis ikan ternyata senang berenang melawan arus, tidak hanya salmon saja.
.
Nah, dengan adanya bendungan, maka ikan-ikan ini menemui jalan buntu ketika sedang dalam perjalanan berenang melawan arus. Ikan-ikan ini menjadi sasaran empuk untuk dimanfaatkan.


<<image 7>>

Setelah dari Bendung Gerak, kami menuju ke kebun jambu batu kristal yang berlokasi tidak jauh dari situ. Yang keren adalah, di kebun jambu ini terdapat WiFi juga lho. Sulit dipercaya. Dan ternyata itu bukan sekedar papan pengumuman, karena ketika saya coba cari WiFi, ada access pointnya! (sayang saya lupa screencap).


<<image 8>>

Kami pun melanjutkan perjalanan melihat daerah sekitar, melihat sapi, lalu ayam yang memiliki bunyi kokok unik (jangan tanya saya nama jenis ayamnya apa).
.
Ada juga tanaman berbentuk unik yang tentu saja namanya saya juga lupa.


<<image 9>>

Setelah berkeliling, kami kembali ke rumah buyut untuk bersih-bersih. Maksudnya adalah mandi ya, bukan menyapu, mengepel, ataupun mencuci baju. Maksud dan tujuan dari bersih-bersih ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk foto-foto. Kami juga menyiapkan kostum khusus untuk hari ini.
.
Destinasi pertama foto-foto adalah tentu adalah rumah buyut. .
Destinasi kedua, yaitu Masjid Al-Fattah yang berlokasi di sebelah rumah eyang buyut, yang pembangunannya diprakarsai oleh eyang kakung semenjak tahun 1971. Siapa tahu nanti di masa depan saya bisa membangun masjid juga ya (Aamiin).
.

<<image 10>>

Destinasi ketiga yaitu makam eyang buyut. Kalau hari sebelumnya merupakan makam eyang buyut dari eyang putri, kalau di desa ini adalah makam eyang buyut dari eyang kakung. 
Di makam desa ini juga dimakamkan beberapa keluarga lainnya, seperti makam-makam dari kakak dan adik eyang kakung. Salah satu kakak dari eyang kakung yang gugur pada masa perjuangan, juga dimakamkan di kompleks makam ini.

Setelah dari makam, kami pun melanjutkan perjalanan ke kota sebelah. Eits, tunggu dulu. Kami melakukan foto bersama terlebih dahulu pada jalan masuk Desa Ngringinrejo. Mengapa? Soalnya di situ ada nama eyang sebagai papan jalan. lol. Nah, kalau tidak mudik, kemungkinan besar kami para cucunya tidak tahu informasi ini.


<<image 11>>

Dari Desa Ngringinrejo, kami melanjutkan perjalanan sejauh 45 km arah utara ke Desa Sugihan.
.
Kami mampir ke Masjid Haji Soedirman untuk shalat dzuhur. Percaya atau tidak, sebagian besar dari kami baru tahu bahwa ada masjid yang namanya diambil dari nama eyang.
.
Jadi, begitu sampai, komentar saya adalah, "masjid ini pakai namanya eyang?". Jujur saja saya juga tidak tahu jadwal lengkap napak tilas kali ini kemana saja. Jadi, tiap kali sampai di suatu destinasi, tidak tahu apa yang akan ditemui.
.
Kami disambut oleh perangkat desa setempat. Saya juga tidak menyangka akan disambut secara formal seperti itu. Dari pihak desa dan keluarga menyampaikan sambutan.
.
Apa kaitan antara eyang dan Desa Sugihan? Tunggu postingan berikutnya.


<<image 12>>

Desa Sugihan mungkin salah satu desa yang sangat berkesan bagi eyang. Dahulu, eyang merupakan pemimpin Brigade Ronggolawe, dimana saat Agresi Militer Belanda 2, brigade berbasiskan di Desa Temayang (iya, ini desa lain lagi).
.
Sebagai pemimpin, tidak mungkin beliau berdiam di basis utama saja. Namun, beliau juga sering mengadakan kunjungan ke desa-desa.
.
Secara strategis, eyang sangat sadar bahwa kunjungan-kunjungan yang dilakukannya sangat bermanfaat. Bagaimanapun, secara moral, kehadirannya di tengah-tengah pos pertahanan pasukan maupun di tengah-tengah penduduk - menghadirkan rasa persatuan dan membangkitkan semangat juang yang tinggi.
.
Begitulah yang berlangsung pada akhir bulan April 1949. Eyang kembali melakukan inspeksi. Bahkan kali ini, eyang mengemban tugas yang dipercayakan oleh pusat, guna mengimbangi langkah-langkah intensif Belanda yang masuk ke kantong-kantong pertahanan para gerilya.
.
Setelah selama seminggu melakukan inspeksi ke kantong-kantong pertahanan gerilya, lalu bertemu juga dengan tokoh-tokoh masyarakat seperti para ulama dan pemuka adat, ataupun tokoh-tokoh nonformal lainnya yang memiliki pengaruh moral di masyarakatnya - eyang dan rombongannya pun bermaksud kembali ke desa Temayang. Namun, karena pertemuan terakhir yang mereka selenggarakan berakhir sudah sore hari, eyang pun mengajak rombongannya untuk singgah dan menginap di desa Sugihan.
.
Di desa Sugihan, berdiamlah seorang tokoh masyarakat bernama Said. Seorang bekas Heiho yang berasal dari Jawa Barat, tapi kemudian menetap dan berkeluarga, dengan menikahi perempuan warga desa Sugihan.
Kegembiraan, itulah yang terpancar di tengah keluarga Said dan penduduk desanya, ketika melihat siapa yang telah singgah di desa mereka. Maka kesibukan pun segera mewarnai desa yang biasanya senyap itu. Kepala Desa sengaja menambah tenaga keamanan demi keselamatan tamu penting mereka.
.
Namun, sementara itu, mata-mata pasukan Belanda agaknya telah lama mengintai gerak-gerik rombongan eyang dan bermaksud menyergap. Dengan tujuan, yang mudah diduga: melenyapkan eyang. Dalam arti politis: menghentikan segenap langkah-langkah perang gerilya yang disebarkan oleh eyang. (bersambung)


<<image 13>>

Peristiwa berdarah itu terjadi pada 8 Mei 1949. Menjelang subuh, seluruh penduduk Desa Sugihan pun dikejutkan oleh suara-suara tembakan. Rumah keluarga Said diserbu oleh pasukan khusus Belanda yang diperlengkapi senjata modern dan sangat memadai. Berlawanan dengan kondisi persenjataan eyang dan rombongannya, yang hanya membawa sepucuk pistol dan beberapa persenjataan sederhana.
.
Tapi sejarah ternyata ingin berkisah lain. Dalam serbuan yang tidak berimbang itu, eyang selamat. Ketika pasukan khusus Belanda menyerbu masuk, dan menewaskan beberapa orang anggota rombongan eyang, beberapa anggota lainnya mengadakan perlawanan gigih. Eyang sendiri, yang segera terjaga dan sempat meraih pistolnya, segera melepaskan tembakan balasan. Seorang tentara Belanda berhasil ia tewaskan. Lalu, eyang pun keluar dengan melompati jendela kamarnya, dan menunggu di kerimbunan kebun di belakang rumah.
.
Setelah terang pagi meninggi, dan masyarakat berdatangan, barulah eyang keluar dari persembunyiannya. Beberapa anggota pasukan Belanda yang masih hidup, ternyata langsung pergi meninggalkan tempat itu. Ada pun korban yang jatuh, di samping dari anggota rombongan eyang sendiri, serta beberapa anggota pasukan Belanda - yang mengenaskan adalah tewasnya keluarga Said suami-istri bersama empat anak mereka. Keluarga Said ini, meninggalkan seorang anak, yang selamat karena tertindih oleh mayat saudara-saudaranya.
.
Versi lain menyebutkan bahwa anak ini, yang bernama Chamami, bersembunyi di dalam kandang hewan ternak sehingga berhasil selamat.
.
Pakde mamik menjadi anak angkat eyang, dan berhubungan baik dengan keluarga kami sampai akhir hayatnya.
.
Ohya, di Desa Sugihan, kami disambut oleh perangkat kecamatan, pemilik rumah tempat kejadian tersebut terjadi, serta keturunan dari Pakde Mamik.


<<image 14>>

Kami kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Kota Bojonegoro. Tujuan kami adalah ke Masjid Baabus Shofa. Pendirian masjid ini merupakan inisiatif dari Pakde, bekerjasama dengan Tinton Suprapto, pembalap terkenal di zamannya yang juga merupakan ayahanda dari Ananda Mikola dan Moreno Suprapto. Pakde juga berkesempatan untuk meresmikan masjid ini.


<<image 15>>

Malamnya acara bebas. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, beberapa di antara kami pergi ke Kayangan Api Bojonegoro. Terletak sekitar setengah jam saja dari pusat kota.
.
Tiba di sana, ternyata tidak ada orang. Saya kira lokasi sudah tutup, tetapi supir yang mengantar kami ke sana, tempat tersebut buka 24 jam. Ternyata, memang bisa masuk. Lucunya, sekitar 15 menit setelah kami tiba, orang-orang pun berdatangan. Kami berasa menjadi penglaris.
.
Kayangan Api berupa sumber api abadi yang tak kunjung padam yang terletak pada kawasan hutan lindung di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem. Kompleks Kayangan Api merupakan fenomena geologi alam berupa keluarnya gas alam dari dalam tanah yang tersulut api sehingga menciptakan api yang tidak pernah padam walaupun turun hujan.
.
Menurut cerita, Kayangan Api adalah tempat bersemayamnya Mbah Kriyo Kusumo atau Empu Supa atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Pandhe berasal dari Kerajaan Majapahit, yang bekerja sebagai pembuat alat-alat pertanian dan pusaka seperti keris, tombak, cundrik dan lain-lain.


<<image 16>>

Di sebelah barat sumber api terdapat air yang berbau belerang, istilahnya air belukutuk. Air tersebut secara kasat mata terlihat seakan-akan mendidih dan berbuih. Namun, begitu disentuh, ternyata air ini sejuk. Tidak panas sama sekali. Konon, di sinilah tempat keris yang dibuat oleh Empu Supa dicelup. Atau apa itu namanya? Pokoknya dibuat jadi adem lah.
.
Di dekat situ, terdapat pohon cinta, karena apa saya juga lupa. Tadi mau nulis bahwa bentuk batangnya agak mirip dengan bentuk hati. Tapi rasanya tidak juga.
.
Terkesan angker? Memang. Apabila mbah penjaga tidak menemani, rasa-rasanya saya tidak mau berfoto di bawah pohon tersebut.





24 August 2026

Napak Tilas Bojonegoro Day 1

 

So yes, I and my family went to. Ups, forgot. Jadi, saya dan keluarga sejak tahun lalu berencana untuk pergi ke Bojonegoro, Jawa Timur. Bojonegoro merupakan tempat kelahiran orang tua dari ibu saya, dan cukup banyak keluarga besar dari buyut yang masih tinggal di sana.

Saya sendiri cukup jarang ke kota ini. Mudik saat lebaran pun tidak pernah. #funfact (ini padanan bahasa Indo nya apa ya?) - ternyata ibu saya pun selama hidupnya tidak pernah mudik saat lebaran. Saya juga baru tau akhir-akhir ini.

Perjalanan Jakarta - Bojonegoro memakan waktu 9 jam perjalanan dengan Kereta Api. Berangkat dari Jakarta hari Jumat malam, kami sampai di Bojonegoro sekitar waktu subuh keesokan harinya.

Ohya, saya baru tahu bahwa di stasiun yg ada di daerah Jawa (butuh validasi di daerah mana saja sih), diawali dengan pembukaan berupa suara gending sebelum pengumuman disampaikan lewat pengeras suara. Keren!

Saya mencoba untuk menyelesaikan travelog Bojonegoro saat (long) weekend ini. Kita lihat saja 😂

Ohya, postingan di travelog kali ini, lebih mengutamakan ragam tulisan dibandingkan gambar. Jangan dibandingkan dengan sesi travelog lain ya 😁

Sebenarnya seri travelog yang ditandai dengan tagar #napaktilasbojonegoro2018 ini sifatnya lebih bersifat dokumentasi personal, tapi saya posting di ranah publik karena tidak tahu juga baiknya posting di mana.
.
Sebagian memang sifatnya sejarah, yang saya tidak temukan di dunia maya setelah mencoba untuk googling, jadi tidak ada salahnya saya tulis di sini. Ohya, ini dengan asumsi kalau digoogling tidak ketemu, berarti informasi tersebut tidak/belum tersedia untuk publik di dunia maya ya.
.
Tulis di Microsoft Words atau Google Docs sebenarnya bisa saja, tetapi khawatir akan menjadi sampah secara otomatis. Kalau saya tulis di sini, siapa tahu ada yang baca, walau bisa jadi hanya buang-buang waktu yang baca saja, hehe. Maaf ya.
.
Oke, jadi hari pertama, setelah menaruh barang-barang di hotel, kami nyekar ke makam eyang buyut. Eyang buyut ini merupakan orang tua dari eyang putri.
.
Nah, makamnya terletak di (ternyata ini tidak ada catatannya. lol. saya kira akan ada saran dari Instagram, tapi ternyata tidak muncul. Sudah coba cari di Google Map ternyata tidak muncul juga). Menurut saya, makam di sini cukup teratur. Tidak seteratur TPU di Jakarta, tetapi lebih baik dibandingkan TPU Cikutra di Bandung. Mungkin karena kontur tanah di Bojonegoro yang lumayan rata, sedangkan di Cikutra berada di daerah perbukitan, sehingga sepertinya ngaturnya sulit juga.
.
Selain eyang buyut, di sini juga dimakamkan saudara kandung dari eyang putri, yaitu eyang Kanah dan eyang Tin (eyangnya @reziana). Eyang putri sendiri dimakamkan di TPU Tanah Kusir bersama eyang kakung. (ini macam tulisan blog anak SD ga sih? hahaha. gapapa lah ya).
.
Ohya, ada beberapa nisan yang tidak ada namanya. Mungkin yang perlu dilakukan adalah memberikan nama yg jelas pada nisan yang tidak bernama (seandainya bisa tinggal mention sodara yg tinggal di sana 😆). Karena, saya bingung mengenali makamnya, kakak.

Setelah nyekar dari makam eyang buyut, kami iring-iringan pergi ke Desa Ngringinrejo.
.
Ngringinrejo adalah nama satu desa di antara 25 desa (itu data tahun 90-an, sekarang 16 desa) yang ada di wilayah Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur.
.
Desa ini terletak lebih kurang 7 kilometer di sebelah barat kota Bojonegoro dan di sebelah timur kota Kalitidu. Oleh karena letaknya yang strategis, di antara dua kota Bojonegoro dan Kalitidu, dan hanya setengah kilometer dari jalan besar Bojonegoro-Cepu, desa Ngringinrejo terbilang mudah dijangkau.
.
Walau kalau dilihat di video ini, dimana kami melewati Bendung Gerak, berarti lewat jalan memutar sih. Mestinya bisa jauh lebih cepat.
.
Oya, di desa ini, tujuan kami adalah langsung ke rumah buyut, dimana sanak saudara sudah cukup banyak yang menunggu. Yang kami lakukan begitu tiba di rumah buyut adalah, tentu saja makan siang, hoho.
.
Makanan yang disajikan sangatlah beragam. Sebagai penutup, kami disuguhkan makanan buah kenitu, yang jujur saat itu baru pertama kali saya memakannya. Teksturnya dan rasanya mirip sawo, namun warnanya putih.

Di pekarangan rumah sudah ada tenda dan juga kursi. Ya, hari itu memang akan diadakan pengajian untuk mendoakan para sesepuh desa.
.
Menurut beberapa informasi, desa ini baru terbentuk sekitar tahun 1911, dua tahun sebelum eyang saya dilahirkan. Sebelumnya, di lokasi itu (Ngringinrejo sekarang) terdapat dua desa yang bernama Mejayan dan Ngringin.
.
Kedua desa ini, oleh Kartoprawiro (eyang buyut), kemudian digabungkan dan diberi nama: Ngringinrejo. Dengan demikian, tidak berlebihan jika eyang pernah mengatakan bahwa ayahnya merupakan "cikal bakal" atau pendiri desa Ngringinrejo.
.
Pengajian dihadiri oleh perangkat desa dan para tetangga. Acara berlangsung khidmat.

Rumah eyang buyut berada di sebelah masjid yang pembangunannya dahulu diinisiasi oleh eyang kakung.
.
Di sebelah masjid, terdapat Balai Desa Ngringinrejo, dan juga satu kompleks dengan tempat Karang Taruna beserta perangkat desa lainnya.
.
Malam tersebut, terdengar lantunan campur sari dari pendopo yang berada di dekat balai desa. Saya sangat senang mendengarnya. (Tadi mau tulis 'I loved it', tapi saya sedang mencoba untuk secara konsisten berbahasa Indonesia. Cukup sulit ya ternyata).
.
Memang, saya sangat senang mendengar suara alunan alat musik tradisional, walau bukan berarti playlist (ini apa bahasa Indonesianya?) saya berisi lagu tradisional.
.
Waktu sedang tinggal di Bali, saya juga begitu senang ketika jam 6 sore muncul suara alunan musik dari pura tempat orang sembahyang. Terkesan organik saja, beda dengan alunan musik dari Spotify atau iTunes yang menjadi andalan biasanya di Jakarta (ya iya lah).
.
Malamnya, kami pergi ke rumah saudara kami yang berada di desa Pungpungan.
.
Ohya, menyenangkan juga ya memiliki rumah di sebelah masjid. Jadi, kalau adzan, hanya sepelemparan batu ke masjidnya.


23 August 2026

Day 10 of #rflorestravelog

 Day 10 of #rflorestravelog.


We didn't go anywhere, from hotel we went directly to the airport. Actually I wanted to see the Soekarno's Ende Expel House (cmiiw for the term), but because one thing and another, I couldn't go there.

This photo also marks my last "official" photo of flores travelog series. FINALLY, after 154 photos! Now I can post random pics in any sequence I want.
Lol.

Alhamdulillah, Flores treated us really kind. It's just effortlessly drop-dead gorgeous in every single corner. Even this photo was taken from a random spot. How about going to Flores again? Definitely ain't say no.




Morning sunlight creeping in inside Mbaru Niang. No grid electricity available, relying on sunlight is unavoidable.

22 August 2026

Day 9 of #rflorestravelog

 Day 9 of #rflorestravelog



We departed at around 3 AM from Moni Village -the closest village from Kelimutu- to try to catch the sunrise.
Thankfully, it was cloudless.


(3/3) Sunrise at Kelimutu


(2/3) Sunrise at Kelimutu



(1/3) Sunrise at Kelimutu


Kelimutu Volcano (1,639m above sea level) contains three striking summit crater lakes of varying colors.

Tiwu Ata Bupu (Lake of Old People) is usually black-ish and is the westernmost of the three lakes. .

Perhaps ppl not very often taking the pic of this side of crater lake, since the view is less compelling compared to the other two.

And, taking pic in the early morning was also challenging since the lighting wasn't optimal yet.



Tiwu Nuwa Muri Koo Fai (lake of young people’s souls); and Tiwu Ata Polo (lake of evil spirits) - on the top right- are situated close together. .


I always wondered how Kelimutu looked like from the visitor's view. I mean, would we stand in the very narrow edge of the crater like in Bromo?

Apparently I think this is a very nice one. Ample space for the visitors, where they could look around and see 3 mystical crater lakes. To reach here, we only need 30 minutes walk from the parking lot in a neat pavement, accompanied by sound of birds singing and chill (or cold) breeze.

Many informative signboards are positioned everywhere. I'm actually surprised, since this national park is very well-managed although its location is far from the capital city.


I always love the moment when the sun and the moon are at the same sky (you know what I mean). While the sun gradually rises and smiles on the east, the moon slowly falls asleep on the west.


Skew to the right - actually I've no idea that the guys in front of me were coincidentally form the similar pose with the trees. And I'm just aware of that when I want to upload this pic, lol.

This is otw to the parking area. And it's already quite warm. On 4AM, I bet it's below 10 degree celsius, freezin!



From Kelimutu, we initially a bit willing to go to Koka Beach. However, quite few people said that it'd be anticlimax since what we'd seen so far were better than that object. Plus, all of us were already running out of batteries, so we headed to Ende.

In Ende, we tried to find souvenirs at the market. I actually don't know the name of the market and randomly picked that offered name to be put on IG :p

Similar with Larantuka, many shops in Ende also have their own unique working hours. Usually they are open from morning til 1 PM, then close until around 4-5 PM, then reopen until 8-9 PM.



Soekarno Contemplation Park.
In this park, stands a big breadfruit tree where under it, Soekarno often sat, working on political ideas to lead Indonesia to independence.

Okay, it seems I took a wrong tree as the object, since apparently it's not a breadfruit tree. Lol.



A statue of Soekarno. Story says that in the very spot, he often sat and contemplate, looking at the sea and also the sunset. I bet the view was gorgeous back then years ago. But not today.

The soothing ambience might become his inspiration to invent ideas that contributed to the opening of Pancasila concept, which is now the state philosophy of Indonesia.

I tried to do the same pose but invented nothing. Maybe I should not have smiled.

Featured Post

Kasih Sayang dan Syukur