Acara keesokan harinya adalah berkeliling. Kami berjalan kaki dahulu melihat sekitar. Hanya 5 menit berjalan, kami sudah bisa bersua dengan Sungai Bengawan Solo yang terkenal itu.
Terlihat sebuah perahu sedang berlayar mendekat, berisi beberapa penumpang beserta kendaraan mereka menyeberangi sungai.
Kata wiki, Solo adalah sungai terpanjang di Pulau Jawa, dengan dua hulu sungai yaitu dari daerah Pegunungan Sewu dan Ponorogo, selanjutnya bermuara di daerah Gresik. "Bengawan" dalam bahasa Jawa berarti "sungai yang besar". #barutau 😂
Pada masa lalu, sungai ini pernah dinamakan Wuluyu, Wulayu, dan Semanggi (dieja Semangy dalam naskah bahasa Belanda abad ke-17)
Dan, mestinya ini dikasih latar lagu "Bengawan Solo" nih, yang menurut saya lagu Indonesia yang paling klasik dan mendunia.
Dari pinggir sungai, kami melakukan perjalanan kembali. Lima menit berselang, sawah-sawah hijau muncul ke hadapan. Mentari pagi yang berpendar keemasan membuat paduan warna hijau dan jingga berpadu indah. Embun pagi menyegarkan. Rasanya pas kalau lagu Zamrud Khatulistiwa menjadi latar.
Dasar anak kota, ketemu sawah saja bisa bikin girang.
Kami bertemu dengan para petani yang sedang menjaga sawahnya dari ancaman burung. Cara menjaga sawahnya bermacam-macam, ada yang dengan cara menggoyangkan tali yang terhubung dengan orang-orangan sawah. Terkadang pada tali tersebut, terdapat kaleng-kaleng yang berbunyi ketika bergerak.
Selain itu, ada juga yang mengusir burung dengan cara menabuh kaleng yang dia bawa sambil berteriak-teriak, seperti yang dilakukan seorang ibu pada video berikut. Gaduh sekali.
Ohya, jalan desa ini terbuat dari conblock dan bukannya aspal. Bagusss.
Tidak seorangpun yang mengetahui secara pasti, mengapa desa di tepi sungai itu diberi nama Ngringinrejo. Yang jelas, banyak yang menafsirkan nama ini sebagai "tempat yang teduh dan ramai". Penafsiran mana, bila dikaitkan dengan kata "ringin" (pohon beringin) dan "rejo" (ramai), memang terlihat tidak mengada-ada. Semua orang (terlebih lagi orang jawa) sudah mahfum bahwa "ringin" (pohon beringin) itu melambangkan (baca: menjanjikan) suasana teduh.
Meskipun demikian, Ngringinrejo ternyata juga dimaknai oleh sebagian orang secara harfiah, yakni "ringin" yang "rejo". Artinya, pohon beringin yang ramai. Lalu, pengertian ini kemudian diperluas menjadi, tempat yang banyak ditumbuhi pohon beringin, dan ramai ditinggali orang.
Nah, terus yang saya foto adalah sawah, mana pohon beringinnya? Gapapa lah ya, yang punya akun mah bebas 😜.
Ohya, terdapat foto dengan bayangan si fotografer ikut numpang ikut (photobomb). Tak apa lah ya, yang penting target foto di tengah sawah sudah terlaksana.
Sejam berlalu (80% digunakan untuk foto-foto), kami akhirnya sampai di Bendung Gerak. Kami melakukan inspeksi terhadap proyek yang sedang dilakukan di bendungan ini. Bohong deng. Yang kami lakukan tidak lain dan tidak bukan adalah membeli kudapan dan kopi/teh.
Keberadaan Bendung Gerak, yang membendung sungai Bengawan Solo ini, fungsinya di samping sebagai penyedia air untuk rumah tangga, pertanian, juga sekaligus menjaga dari kerusakan ekosistem sungai Bengawan Solo supaya tak meluas ketika banjir menerjang dan sebagai bentuk tata kelola air di Jawa Timur.
Sebelumnya petani hanya bisa melakukan tanam dua kali setahun, sekarang diharapkan bertambah menjadi tiga kali tanam dalam setahun.
Dulu sekitar 21 ribu hektare lahan pertanian padi di Bojonegoro Barat andalkan pertanian tadah hujan. Setelah ada pompanisasi, wilayah itu tidak mampu melakukan 2 kali panen dalam setahun. Maka sawah beririgasi dengan pompa air menjadi menjadi 6000 ribu hektare. Dengan adanya bendungan gerak ini 11 ribu hektare sawah akan bisa ditanami dua kali setahun. (diambil dari wiki, tentu saja).
Foto ini diambil dari dalam sungai Bengawan Solo, in a way. Ini berada pada bagian kering dari bendungan.
Mas Andi mengajak kami melanjutkan berkeliling menggunakan mobil, syukur alhamdulillah.
Tujuan pertama adalah berkunjung ke sisi surut dari Bendung Gerak. Pada sisi surut ini (oke, saya sebenarnya asal saja menamakan sisi surut. Jadi, yang namanya bendungan kan ada dua sisi. Satu sisi merupakan tempat air dibendung, dan satu sisi dimana air keluar perlahan-lahan, dan permukaannya lebih rendah dari sisi bendung tersebut).
Saya selalu berpikir bahwa ikan hanya banyak terdapat pada sisi bendung, karena di situ banyak terdapat air. Banyak air -> banyak ikan. Namun, saya ternyata salah. Pada sisi surut juga terdapat banyak ikan. Saya baru tahu bahwa beberapa jenis ikan ternyata senang berenang melawan arus, tidak hanya salmon saja.
Nah, dengan adanya bendungan, maka ikan-ikan ini menemui jalan buntu ketika sedang dalam perjalanan berenang melawan arus. Ikan-ikan ini menjadi sasaran empuk untuk dimanfaatkan.
Setelah dari Bendung Gerak, kami menuju ke kebun jambu batu kristal yang berlokasi tidak jauh dari situ. Yang keren adalah, di kebun jambu ini terdapat WiFi juga lho. Sulit dipercaya. Dan ternyata itu bukan sekedar papan pengumuman, karena ketika saya coba cari WiFi, ada access pointnya! (sayang saya lupa screencap).
Kami pun melanjutkan perjalanan melihat daerah sekitar, melihat sapi, lalu ayam yang memiliki bunyi kokok unik (jangan tanya saya nama jenis ayamnya apa).
Ada juga tanaman berbentuk unik yang tentu saja namanya saya juga lupa.
Setelah berkeliling, kami kembali ke rumah buyut untuk bersih-bersih. Maksudnya adalah mandi ya, bukan menyapu, mengepel, ataupun mencuci baju. Maksud dan tujuan dari bersih-bersih ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk foto-foto. Kami juga menyiapkan kostum khusus untuk hari ini.
Destinasi pertama foto-foto adalah tentu adalah rumah buyut. .
Destinasi kedua, yaitu Masjid Al-Fattah yang berlokasi di sebelah rumah eyang buyut, yang pembangunannya diprakarsai oleh eyang kakung semenjak tahun 1971. Siapa tahu nanti di masa depan saya bisa membangun masjid juga ya (Aamiin).
Destinasi ke-3, tunggu postingan berikutnya.
Destinasi ketiga yaitu makam eyang buyut. Kalau hari sebelumnya merupakan makam eyang buyut dari eyang putri, kalau di desa ini adalah makam eyang buyut dari eyang kakung.
Di makam desa ini juga dimakamkan beberapa keluarga lainnya, seperti makam-makam dari kakak dan adik eyang kakung. Salah satu kakak dari eyang kakung yang gugur pada masa perjuangan, juga dimakamkan di kompleks makam ini.
Setelah dari makam, kami pun melanjutkan perjalanan ke kota sebelah. Eits, tunggu dulu. Kami melakukan foto bersama terlebih dahulu pada jalan masuk Desa Ngringinrejo. Mengapa? Soalnya di situ ada nama eyang sebagai papan jalan. lol. Nah, kalau tidak mudik, kemungkinan besar kami para cucunya tidak tahu informasi ini.
Dari Desa Ngringinrejo, kami melanjutkan perjalanan sejauh 45 km arah utara ke Desa Sugihan.
Kami mampir ke Masjid Haji Soedirman untuk shalat dzuhur. Percaya atau tidak, sebagian besar dari kami baru tahu bahwa ada masjid yang namanya diambil dari nama eyang.
Jadi, begitu sampai, komentar saya adalah, "masjid ini pakai namanya eyang?". Jujur saja saya juga tidak tahu jadwal lengkap napak tilas kali ini kemana saja. Jadi, tiap kali sampai di suatu destinasi, tidak tahu apa yang akan ditemui.
Kami disambut oleh perangkat desa setempat. Saya juga tidak menyangka akan disambut secara formal seperti itu. Dari pihak desa dan keluarga menyampaikan sambutan.
Apa kaitan antara eyang dan Desa Sugihan? Tunggu postingan berikutnya.
Desa Sugihan mungkin salah satu desa yang sangat berkesan bagi eyang. Dahulu, eyang merupakan pemimpin Brigade Ronggolawe, dimana saat Agresi Militer Belanda 2, brigade berbasiskan di Desa Temayang (iya, ini desa lain lagi).
Sebagai pemimpin, tidak mungkin beliau berdiam di basis utama saja. Namun, beliau juga sering mengadakan kunjungan ke desa-desa.
Secara strategis, eyang sangat sadar bahwa kunjungan-kunjungan yang dilakukannya sangat bermanfaat. Bagaimanapun, secara moral, kehadirannya di tengah-tengah pos pertahanan pasukan maupun di tengah-tengah penduduk - menghadirkan rasa persatuan dan membangkitkan semangat juang yang tinggi.
Begitulah yang berlangsung pada akhir bulan April 1949. Eyang kembali melakukan inspeksi. Bahkan kali ini, eyang mengemban tugas yang dipercayakan oleh pusat, guna mengimbangi langkah-langkah intensif Belanda yang masuk ke kantong-kantong pertahanan para gerilya.
Setelah selama seminggu melakukan inspeksi ke kantong-kantong pertahanan gerilya, lalu bertemu juga dengan tokoh-tokoh masyarakat seperti para ulama dan pemuka adat, ataupun tokoh-tokoh nonformal lainnya yang memiliki pengaruh moral di masyarakatnya - eyang dan rombongannya pun bermaksud kembali ke desa Temayang. Namun, karena pertemuan terakhir yang mereka selenggarakan berakhir sudah sore hari, eyang pun mengajak rombongannya untuk singgah dan menginap di desa Sugihan.
Di desa Sugihan, berdiamlah seorang tokoh masyarakat bernama Said. Seorang bekas Heiho yang berasal dari Jawa Barat, tapi kemudian menetap dan berkeluarga, dengan menikahi perempuan warga desa Sugihan.
Kegembiraan, itulah yang terpancar di tengah keluarga Said dan penduduk desanya, ketika melihat siapa yang telah singgah di desa mereka. Maka kesibukan pun segera mewarnai desa yang biasanya senyap itu. Kepala Desa sengaja menambah tenaga keamanan demi keselamatan tamu penting mereka.
Namun, sementara itu, mata-mata pasukan Belanda agaknya telah lama mengintai gerak-gerik rombongan eyang dan bermaksud menyergap. Dengan tujuan, yang mudah diduga: melenyapkan eyang. Dalam arti politis: menghentikan segenap langkah-langkah perang gerilya yang disebarkan oleh eyang. (bersambung)
Peristiwa berdarah itu terjadi pada 8 Mei 1949. Menjelang subuh, seluruh penduduk Desa Sugihan pun dikejutkan oleh suara-suara tembakan. Rumah keluarga Said diserbu oleh pasukan khusus Belanda yang diperlengkapi senjata modern dan sangat memadai. Berlawanan dengan kondisi persenjataan eyang dan rombongannya, yang hanya membawa sepucuk pistol dan beberapa persenjataan sederhana.
Tapi sejarah ternyata ingin berkisah lain. Dalam serbuan yang tidak berimbang itu, eyang selamat. Ketika pasukan khusus Belanda menyerbu masuk, dan menewaskan beberapa orang anggota rombongan eyang, beberapa anggota lainnya mengadakan perlawanan gigih. Eyang sendiri, yang segera terjaga dan sempat meraih pistolnya, segera melepaskan tembakan balasan. Seorang tentara Belanda berhasil ia tewaskan. Lalu, eyang pun keluar dengan melompati jendela kamarnya, dan menunggu di kerimbunan kebun di belakang rumah.
Setelah terang pagi meninggi, dan masyarakat berdatangan, barulah eyang keluar dari persembunyiannya. Beberapa anggota pasukan Belanda yang masih hidup, ternyata langsung pergi meninggalkan tempat itu. Ada pun korban yang jatuh, di samping dari anggota rombongan eyang sendiri, serta beberapa anggota pasukan Belanda - yang mengenaskan adalah tewasnya keluarga Said suami-istri bersama empat anak mereka. Keluarga Said ini, meninggalkan seorang anak, yang selamat karena tertindih oleh mayat saudara-saudaranya.
Versi lain menyebutkan bahwa anak ini, yang bernama Chamami, bersembunyi di dalam kandang hewan ternak sehingga berhasil selamat.
Pakde mamik menjadi anak angkat eyang, dan berhubungan baik dengan keluarga kami sampai akhir hayatnya.
Ohya, di Desa Sugihan, kami disambut oleh perangkat kecamatan, pemilik rumah tempat kejadian tersebut terjadi, serta keturunan dari Pakde Mamik.
Kami kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Kota Bojonegoro. Tujuan kami adalah ke Masjid Baabus Shofa. Pendirian masjid ini merupakan inisiatif dari Pakde, bekerjasama dengan Tinton Suprapto, pembalap terkenal di zamannya yang juga merupakan ayahanda dari Ananda Mikola dan Moreno Suprapto. Pakde juga berkesempatan untuk meresmikan masjid ini.
Malamnya acara bebas. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, beberapa di antara kami pergi ke Kayangan Api Bojonegoro. Terletak sekitar setengah jam saja dari pusat kota.
Tiba di sana, ternyata tidak ada orang. Saya kira lokasi sudah tutup, tetapi supir yang mengantar kami ke sana, tempat tersebut buka 24 jam. Ternyata, memang bisa masuk. Lucunya, sekitar 15 menit setelah kami tiba, orang-orang pun berdatangan. Kami berasa menjadi penglaris.
Kayangan Api berupa sumber api abadi yang tak kunjung padam yang terletak pada kawasan hutan lindung di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem. Kompleks Kayangan Api merupakan fenomena geologi alam berupa keluarnya gas alam dari dalam tanah yang tersulut api sehingga menciptakan api yang tidak pernah padam walaupun turun hujan.
Menurut cerita, Kayangan Api adalah tempat bersemayamnya Mbah Kriyo Kusumo atau Empu Supa atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Pandhe berasal dari Kerajaan Majapahit, yang bekerja sebagai pembuat alat-alat pertanian dan pusaka seperti keris, tombak, cundrik dan lain-lain.
Di sebelah barat sumber api terdapat air yang berbau belerang, istilahnya air belukutuk. Air tersebut secara kasat mata terlihat seakan-akan mendidih dan berbuih. Namun, begitu disentuh, ternyata air ini sejuk. Tidak panas sama sekali. Konon, di sinilah tempat keris yang dibuat oleh Empu Supa dicelup. Atau apa itu namanya? Pokoknya dibuat jadi adem lah.
Di dekat situ, terdapat pohon cinta, karena apa saya juga lupa. Tadi mau nulis bahwa bentuk batangnya agak mirip dengan bentuk hati. Tapi rasanya tidak juga.
Terkesan angker? Memang. Apabila mbah penjaga tidak menemani, rasa-rasanya saya tidak mau berfoto di bawah pohon tersebut.